BOUNDLESS LOVE
1. Defenisi Ibu di Sudut Persimpangan..
Rae...
Kenalkan namaku Rae Avery Saya berusia 23 tahun dan tinggal di sebuah kota besar dari negara ini. Saya memiliki 3 kakak dan seorang adik dari ayah yang berbeda. Masing-masing dari kami tidak mengetahui nama ayah kandung sendiri. Apa ibuku seorang wanita baik-baik? Entahlah, hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.
Apa itu defenisi ibu? Rasa-rasanya menyakitkan mencari defenisi ibu di sudut persimpangan. Buatku kosakata ibu hanya bercerita tentang iblis, pelacur, gatal, selalu bergonta-ganti pasangan, haus validasi.
Sudut jalan setapak berteriak kuat ingin menyatakan iramanya di lorong tergelap. Apa dua kaki dapat berdiri kuat? Topeng permainan menancap kuat hingga membungkus seluruh tubuh. Duduk termenung seperti manusia bodoh di lorong gelap tanpa cerita sama sekali.
Hai lorong gelap, sekali saja dirimu berjalan pergi tanpa jejak dari hidup? Dua bola mata ingin mencari defenisi makna hidup di dalam sebuah rumah, hanya saja benteng cukup besar seolah menjadi pembatas menakutkan. Sudut persimpangan itu selalu saja tertawa hingga menciptakan ribuan luka di dalam sana.
“Ra, apa kau pernah mengerti cerita hidup?” menarik napas sambil menatap kendaraan lalu-lalang di depanku.
“Mama” teriakan tiba-tiba seorang anak kecil.
“Jangan talut” sang ibu segera mendekap penuh hangat.
Andai saja, saya bisa merasakan hal yang sama seperti anak kecil di sampingku. Apa ini yang dinamakan kehidupan? Saya ingin berteriak sekeras mungkin, tetapi sesuatu menahannya di dalam sana. Ribuan kosakata sunyi mencekam, bahkan terkesan sangat menakutkan sedang membungkus hebat di sudut persimpangan jalan.
Hai jiwa, apa dirimu tidak ingin berlari kuat untuk mencari sebuah jalan? Hembusan kelam terdengar berisik hingga mempermainkan alur cerita di jalan setapak di sana. Kerikil-kerikil tajam selalu saja menghardik membuatku ingin memaki sekeras mungkin.
“Ra, mau kemana?” Zora berteriak keras ke arahku.
“Biasa nongkrong” memjawab pertanyaannya.
Saya seorang dengan kepribadian berbeda dari siapapun di sekitarku. Sulit tidur, emosional tidak terkendali, kesepian, hampa, bahkan terkadang saya ingin melenyapkan diriku sendiri. Jujur, saya membutuhkan obat tidur agar tertidur lelap di malam hari. Sepertinya gangguan mental dalam diriku sudah berada di tingkat paling menakutkan. Rasa takut tanpa sebab selalu saja mengudara di malam sepi di kamarku.
Hidup tanpa alur membuatku hilang arah. Keringatku mengucur tiap malam ketika rasa takut mendera tanpa sebab. Adakah seorang saja yang bisa mengerti ruang di dalam sana? Tiba-tiba saja, saya menangis sejadi-jadinya karena duniaku terasa begitu hambar dan rasa kesepian begitu hebat membungkus tanpa jedah iklan.
Saya seperti manusia bodoh berjalan tanpa arah di sudut persimpangan. Kesepian itu begitu menakutkan dengan begitu mudahnya menggerogoti alur cerita, yang pada akhirnya dua kaki terus saja berada di lorong paling tergelap. Bagaimana saya akan bercerita terhadap orang di sekitarku? Saya hanya akan menjadi bahan tertawaan oleh orang banyak.
“Rae” teriak Zora mengejarku sambil berlari dengan napas terputus-putus.
“Kau kenapa sih?” makian Zora terlihat kesal.
“Kenapa apa?” ujarku sambil terus berjalan seolah cuek.
Zora hanya sebatas teman yang tidak akan mungkin mengerti tentang sesuatu di dalam sana. Sebatas teman seperti apa? Teman merokok, berjudo, nongkring, dugem. Kami berdua selalu menghabiskan waktu di malam hari duduk seperti orang gila sekitaran halte bis berjam-jam lamanya.
Apa yang tidak kami lakukan? Minum hingga mabuk? Jelas kehidupan seperti ini merupakan sesuatu hal yang biasa dilakukan. Terkadang menjadi pelacur di sela-sela tertentu, tidak menjadi masalah selama menghibur kekosongan di dalam sana. Tertawa keras hingga membangunkan orang tidur di tengah malam merupakan sebuah keharusan. Berjudi? Jangan ditanya lagi, bagaimana Zora dan saya selalu menang banyak di atas meja haram itu.
“Mari kita party sampai mabuk” berteriak di sebuah ruangan.
“Kau memang hebat masalah alkohol” Zora terlihat mabuk berat.
“Minum lagi sana!” nada memerintah.
“Aku sudah ga kuat” Zora.
“Hanya segitu saja kemampuan seorang Zora?” menggeleng-geleng kepala.
“Siapa bilang?” Zora.
“Payah” mengejek dirinya sambil tertawa.
“Buktikan!” masih terus saja tertawa.
“Siapa takut?” teriak Zora sambil berjalan sempoyongan.
“Biarkan malam ini, menjadi party terbaik Zora dan Rae” berteriak keras.
Apa ini sesuatu yang ingin kucari? Saya seorang dengan kehidupan hambar, keeepian, depresi sedang mencari jati diri. Saya begitu haus dengan sesuatu objek yang memang sulit untuk dijelaskan. Hanya dunia seperti ini saja terdengar sebagai penghibur sejati.
Apa itu makna hidup? Saya haus kasih sayang, hanya saja tidak seorang pun ingin memberikan sesuatu yang kucari ke arahku. Apa pekerjaanku? Terkadang menjadi penipu, sales, penjudi kelas kakap, simpanan kakek-kakek hidung belang, dan masih banyak lagi pekerjaan hanya demi sebuah pertahanan. Saya tidak memiliki arah hidup.
Saya terbiasa hidup di jalan sejak kecil. Mama hanya datang ketika membutuhkan uang dan tidak lebih dari itu. Apa ini yang dikatakan hidup? Saya tidak pernah mengenal wajah papa seperti apa sih bentuknya. Bahkan, antara saya dan saudaraku yang lain tidak saling tegur sapa.
Kehidupan tanpa kasih sayang, kenyataannya memang menghancurkan masa depan seorang anak. Luka demi luka menancap begitu kuat di dalam sana. Emosi meledak-ledak menciptakan sebuah dunia runtuh di dalam sana.
“Saya bilang pergi” berteriak dengan geram tanpa sebab terhadap Zora.
“Rae” Zora seolah terbiasa dengan sikap kasarku.
“Kenapa masih tinggal?”
“Ingin mengejek?”
“Ingin menertawakan?”
“Cuma ingin makan” bahasa Zora seolah tidak perduli.
“Hatimu terbuat dari apa?” pertanyaan buatnya.
“Dari batu” Zora.
Dia tidak pernah perduli, nada emosi meninggi dariku. Saya seorang pengidap anxiety kelas kakap. Apa Zora tahu? Entahlah...
Sesuatu menahan diriku untuk tidak berterus terang terhadap Zora. Saya takut kalau dia pada akhirnya pergi. Rasa takut berlebihan, cemas, bahkan keringat mengucur seperti biji jagung sering terjadi di malam sunyi dalam kamarku.
“Sampai kapan hidup Rae Avery berjalan tanpa arah?” menangis seorang diri dalam kamar.
Kemana Zora? Saya tidak pernah ingin dia tahu tentang sesuatu dalam diriku hingga dua tamganku terus saja menghalangi dirinya hanya untuk bermalam di rumahku. Saya akan memilih tinggal di sebuah apartement lain jauh dari rumahku ketika hidup kembali menjalani peran sebagai simpanan.
“Kenapa saya harus dilahirkan?” pertanyaan yang sering terlintas.
“Kenapa Tuhan tidak adil?” sangat marah terhadap Tuhan.
“Kenapa saya harus lahir dari wanita pelacur seperti mama?”
“Kenapa?” sekali lagi pertanyaan kenapa sedang mengudara.
Obat tidur sepertinya sudah tidak memiliki efek apa pun terhadapku. Saya sering mengonsumsi obat tidur dengan dosis lebih tiap harinya. Ingin melenyapkan nyawa sendiri sering membungkus kisah Rae Avery.
“Rae” teriak nenek lampir seperti biasa.
“Rae” sekali lagi berteriak.
“Tolong, anda gunakan sopan santun sedikit kalau datang” berujar terhadap mama.
“Kenapa saya harus sopan terhadap anak sendiri?” ucapan menusuk darinya.
“Jelaskan maksud kedatangan anda, nenek lampir!” menatap sinis dirinya.
“Ulangi ucapanmu!” nenek lampir.
“Nenek lampir” berkata-kata terhadapnya.
“Dasar anjing ga tahu untung” makian nenek lampir.
“Sejak kapan saya tidak tahu untung?”
“Dasar setan” ucapan beringas seorang ibu tanpa pernah menyadari rasa sakit anaknya seperti apa.
Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Kata-kata kasar seperti setan, anjing, bodoh, anak sialan, tidak tahu diri, kurang ajar, babi, dan segala jenis bahasa kebun binatang sudah terbiasa terdengar cukup keras sekitar gendang telingaku sejak kecil. Apa ini yang dikatakan defenisi ibu terbaik?
“Kalau saya setan, berarti nenek lampir apanya setan?” menyindir hidupnya.
“Kau berani?” nenek lampir menampar wajahku seketika.
Apa saya membiarkan tamparan tadi? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Saya balik membalas tamparan tadi berulang kali. Pada akhirnya, tarik menarik rambut satu sama lain terjadi di ujung cerita. Tidak seorang pun dari kami yang ingin mengalah.
“Ingin memaki?” teriakanku meledak.
“Kalau iya, kenapa?” nenek lampir.
“Keluar dari rumahku!” mengusir nenek lampir.
“Saya butuh penjelasan dari pelacur sepertimu masalah transferan uang pria hidung belang yang sudah kau rampas dari kakakmu” nenek lampir.
Orang tua macam apa dirinya? Menjadikan semua anaknya sebagai simpanan demi kepuasan finansial semata? Ruang hatiku di dalam sana hancur tiap menatap ke arahnya.
Luka itu benar-benar kuat menancap hingga menusuk sum-sum tulang belakang. Jalan setapak selalu saja tertawa lebar ketika dua kaki berjalan ataukah hanya sekedar berdiri di tempatnya.
“Pergi dari rumahku!” segera mendorong tubuh sang nenek lampir.
“Dasar pelacur” teriak nenek lampir.
“Apa kau tidak sadar kalau nenek lampir sepertimu juga pelacur?”
“Anak sialan” nenek lampir.
“Kau jauh lebih menakutkan” ujarku mendorong dirinya dengan kasar.
Terjadi perang sengit antara kami berdua. Hidup tidak pernah adil terhadapku. Apa salah kalau saya juga ingin merasakan dekapan sama seperti anak lainnya? Apa kata harapan itu masih ada?
Tiap langkahku hanya bercerita tentang luka demi luka. Ruang luka di dalam sana sepertinya semakin menumpuk dan menumpuk, hingga pada akhirnya cerita hidupku berkata-kata di dalam tangis amarah. Sudut persimpangan, apa dirimu memang selamanya hanya akan bercerita luka tiap saat? Sekali saja, dirimu tersenyum memberi kehangatan. Apa itu salah?
“Saya tahu kalau hidupku memang pada dasarnya sangat kotor” menangis di dalam kamar seorang diri setelah nenek lampir pergi.
“Apa salah kalau saya juga ingin dekapan hangat?” terus saja menangis histeris.
Kesepian itu cukup menakutkan, bahkan semakin membungkus hidup seorang Rae Avery. Di dalam tangisku, tidak seorangpun pernah tahu bagaimana situasi mencekam terus saja menghardik. Apa ini yang dinamakan hidup?
“Rae, tikam saja dirimu!” sebuah bisikan halus tiba-tiba saja terdengar.
“Hidupmu sudah terlalu kotor untuk bertahan hidup” sekali lagi bisikan halus berkata-kata di dalam kesunyian.
“Lenyapkan saja dirimu!”...
“Tidak akan ada orang yang perduli denganmu”...
“Buat apa kau bertahan hidup kalau kekuatanmu saja sudah habis lenyap?” bisikan demi bisikan berkumandang.
Membayangkan alur ceritaku tanpa ending terbaik, membuatku tertawa sinis di dalam kegelapan. Saya tidak pernah mengerti tentang kehangatan ketika berjalan. Apa ini yang dikatakan hidup?
Semua orang menatap sinis ke arahku sejak kecil. Deretan peristiwa bermunculan di benak seorang Rae Avery. Kenapa saya harus lahir tanpa tujuan?
FLASHBACK
“Dasar anak sialan” ucapan tetangga ke arahku.
“Anak pelacur” teman-temanku selalu saja melemparkan bahasa menakutkan. Mereka semua menjauh dan tidak ingin bermain denganku.
“Anak kurang ajar, wajar saja, masalahnya bapaknya saja tidak tahu yang mana” sindiran anggota keluarga mama ketiika saya masih tinggal bersama mereka.
“Jangan dekat-dekat Rae, nanti hidupmu seperti dirinya” sindiran orang banyak.
Saya harus kemana? Semua menolak hidup seorang Rae Avery. Sekali saja, dua kaki dapat berjalan sambil tersenyum. Ruang luka itu semakin membesar seiring berjalannya waktu.
Saya butuh dekapan mama setelah mendapat cabikan luka di luar sana. Tetapi, apa yang terjadi? Mama jauh lebih menakutkan dari mereka. Segala jenis bahasa kebun binatang bersama pernyataan-pernyataan kutukan mengudara tanpa jedah iklan dari bibir mulutnya.
“Anak tidak tahu diri” teriakan mama.
“Dasar perempuan sialan” kalimat mama berikutnya.
“Anjing” kalimat yang sering keluar...
“Binatang” luapan emosional seorang ibu.
“Pelacur”...
“Pencuri”...
“Tidak tahu berterima kasih”...
“Kau tidak akan sukses sampai kapanpun”...
“Kau selamanya akan ditakdirkan sebagai perempuan gila, pelacur, murahan” seorang ibu tanpa rasa bersalah melemparkan pernyataan-pernyataan menakutkan?
Bahasa seorang ibu di mata seorang Rae, hanya bercerita kebun binatang dan kutuk. Dimana defenisi cerita tentang ibu dalam kehangatan? Kakak dan adik akan selalu berjalan di dalam kegelapan malam.
“Rae, nikmati saja perjalanan gelap itu!” tertawa sinis sambil berjalan seperti manusia bodoh setiap detiknya.
2. Lorong menakutkan...
FLASHBACK...
Apa saya akan tetap tinggal di lorong menakutkan tadi seumur hidup? Berjalan keluar dari kamar bersama tatapan kosong tanpa arah hidup. Tuhan, sekali saja diriMU memberiku kehangatan.
Duduk di jalan seorang diri bersama kesunyian malam. Sepertinya memilih mati jauh lebih baik, dibanding bertahan seperti manusia bodoh. Menabrakkan diri terdengar luar biasa. Setidaknya si’penabrak mendapat hukuman penjara, walaupun sosok Rae memang ingin mati. Apa salahnya membuat sang penabrak menderita sekalipun kesalahan ada pada diriku.
“Apa kau butuh dekapan?” seorang gadis cantik berdiri di belakangku sambil tersenyum.
Kenapa tengah malam begini, masih ada gadis cantik berjalan sendirian tanpa rasa takut? Lantas saya, apa bukan gadis? Saya hanyalah perempuan nakal yang tidak sebanding dengannya, kalaupun kenapa-kenapa tidak menjadi masalah. Lagian, saya juga sebentar lagi mati....
“Kenapa duduk disini seorang diri?” sekali lagi dia melempar pertanyaan.
Apa saya menjawab dirinya? Diam membisu dan bersikap cuek sama sekali. “Sepertinya kau memang butuh dekapan” ujarnya sambil tersenyum.
“Apa urusanmu?” bernada kasar.
“Kau makin cantik kalau lagi kesal” senyumnya seolah menggodaku.
Pertama kalinya, seseorang mengatakan saya cantik? Ucapan tadi hanya sebuah kebohongan belaka. Duduk diam membisu dengan tatapan kosong...
“Kau tidak sendirian” tiba-tiba saja, dekapan hangat membungkus diriku sekarang. Pertama kalinya, seorang Rae Avery merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakan olehnya.
“Apa kau merasa lebih baik?” pertanyaan darinya sambil menepuk-nepuk punggungku.
Saya berusaha menahan tangis dalam diriku terhadap orang yang sama sekali tidak kukenal. “Jangan mati!” pernyataan darinya.
Dia tahu apa yang sedang ingin kulakukan saat ini. Rasa sakit itu cukup dalam bagi seorang gadis sepertiku. Buat apa saya bertahan?
“Tetaplah hidup!” kalimatnya.
Saya tidak dapat berkata-kata mendengar ucapannya. “Luan, ayo pulang!” ucapan seseorang di belakang kami tanpa sadar.
Ternyata nama gadis cantik itu Luan. “Sekali lagi, jangan mati” ujarnya semakin mendekap tubuhku seolah tidak memperdulikan suara lain.
“Tetaplah hidup” dia akhirnya melepas tubuhku.
Seorang pria bertubuh tinggi menarik tangannya. Pria itu segera menggendong gadis cantik di depanku, kemudian berjalan pergi tanpa berkata-kata. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih.
Andai saja, saya memiliki pasangan yang selalu ada seperti Luan. Ingatan pria di benakku hanya bercerita tua-tua keladi. Tidak satupun dari mereka berusia muda sepertiku. Kehidupan Rae dengan peran sebagai simpanan demi uang dan hiburan semata.
Kenapa juga ucapan Luan terngiang di telingaku terus-menerus? Kehangatan yang tidak pernah kurasakan, untuk pertama kalinya membungkus seketika. Dia seolah tahu apa yang sedang kurasakan. Melempar senyum terbaiknya bersama dekapan hangat.
Entah kenapa, saya ingin bertahan sekali lagi untuk pertama kalinya. “Setidaknya beri hidupmu kesempatan untuk bertahan di tengah rasa sakitmu” suara hati berbisik seketika.
Bagaimana saya akan berjalan? Sampai dimana letak kekuatan Rae untuk berjalan dan bertahan? “Jangan mati, tetaplah hidup!” suara Luan terus saja bergema hingga berjalan masuk ke dalam mimpiku terus-menerus
“Rae, buka pintu!” seperti biasa nenek lampir menggedor-gedor pintu rumahku.
“Dasar nenek lampir” mengejek dirinya setelah pintu terbuka.
Saya harus membuka pintu rumah sebelum tetangga berteriak kiri-kanan ke arahku. Selalu saja mengacaukan hidupku. Apa boleh kalau saya menikam tubuhnya? Sekali saja...
“Kembalikan uang pemberian pria yang sudah kau rebut dari kakakmu!” ucapan nenek lampir.
Mama hanya perduli dengan uang, tidak lebih dari objek tadi. Saya segera memberi sebuah kartu ke tangannya tanpa basa-basi untuk mencegah pertengkaran. “Kau lagi tidak sakit?” nenek lampir terkejut melihat kelakuanku.
“Keluar dari rumahku sekarang!” mendorong tubuhnya kasar.
“Sebutkan pin!” kalimatnya.
“1234567, cukup!” bahasaku.
“Pinmu segampang itu?” ucapan nenek lampir terkejut.
“Keluar dari rumahku sekarang!” terlihat histeris mendorong tubuhnya.
Sepertinya saya harus pergi menjauh dari kehidupan mereka semua. Saya ingin tinggal di sebuah tempat yang mana tidak seorangpun mengenalku. Menikmati beberapa batang rokok sebelum akhirnya mengambil keputusan.
Mengemasi semua barang-barangku untuk berjalan pergi meninggalkan kota menakutkan di sini. Saya akan menghilang tanpa jejak. Belajar bertahan dan mencoba sebuah kehidupan.
Pada akhirnya, saya berada di sebuah kota jauh dari semua masa laluku. Entah sampai kapan sosok Rae dapat bertahan. Apa kebiasaan burukku mulai menghilang? Jangan mimpi di siang bolong. Merokok, berjudi, party, mabuk, kesulitan tidur, anxiety, dan beberapa hal lain masih tetap kujalani, kecuali menjadi simpanan.
Lantas, dari mana saya mendapat uang untuk bertahan hidup? Saya tidak lagi berperan sebagai simpanan, tetapi hidupku sedang berjuang menjalani peran sales marketing pada salah satu perusahaan. Hingga suatu ketika, sesuatu terjadi tanpa di duga...
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berjalan ke arahku. Apa saya sudah mati? Sejak dulu, memang hal seperti ini yang diingini oleh seorang Rae. Menabrakkan diri dan mati seketika...
Saya tidak sedang menabrakan tubuh ke mobil tersebut, hanya saja semua terjadi begitu saja. Apa saya akan pergi untuk selamanya? “Jangan mati!” suara Luan bergema begitu saja di telingaku.
“Tetaplah hidup” suaranya nyaris terdengar begitu jelas.
“Kau sudah bangun?” suara seseorang terdengar cukup jelas.
Kenapa saya tidak bisa melihat? Apa yang terjadi denganku? Apa saya buta? Tidak seorangpun menyadari keberadaanku di kota ini, tetapi ...
“Jangan bergerak dulu!” suara lembut mencoba berkata-kata.
“Saya ada dimana?”
“Anda sedang dirawat di rumah sakit” kalimatnya.
“Apa yang terjadi?”
“Anda tidak sadarkan diri selama beberapa hari” ujarnya.
“Anda siapa?”
“Saya dokter yang menangani anda” ujarnya.
“Anda sangat beruntung” ujar sang dokter.
“Beruntung?”
“Kecelakaan mobil membuat dua bola mata anda buta total karena serpihan kaca merobek kuat dua bola mata di tempat kejadian” kalimat sang dokter.
Sesuatu yang tidak pernah kupikirkan adalah menjadi buta seumur hidup. Bagaimana saya akan berjalan di dalam kegelapan? Siapapun tidak mengenalku di kota ini. Zora sekalipun tidak pernah tahu letak keberadaanku sekarang.
“Seseorang mendonorkan dua bola matanya untuk anda” ujarnya.
“Artinya saya tidak jadi buta?”
“Menurutmu?” sang dokter.
“Siapa dia?”
“Gadis cantik yang tidak pernah mengeluh tentang hidup” kalimat sang dokter.
“Apa saya mengenalnya?”
“Anda tidak mengenalnya, tetapi dia berkata kalau dirinya mengenalmu” sang dokter.
“Siapa?”
“Kau akan tahu setelah perban di matamu dilepas” kalimat dokter sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan tempatku berbaring.
Kenapa dia mau memberiku dua bola matanya? Apa saya mengenalnya? Bagaimana dia akan berjalan tanpa dua bola matanya?
“Siapa dia?” suara hati bergema begitu saja. Kupikir, tidak seorangpun ingin mengorbankan dirinya hanya untuk wanita kotor sepertiku. Apa dia sakit jiwa? Kenapa tidak membiarkan saya mati seketika?
“Buka mata anda pelan-pelan!” perintah sang dokter.
Entah kenapa, saya merasa memiliki setitik sinar sebagai kekuatan untuk bertahan. Cahaya itu mulai terlihat setelah perban di mataku terbuka. “Apa anda dapat menatap ke arahku?” seorang wanita cantik memakai jas putih.
“Siapa dia?” pertanyaan pertama setelah perbanku terlepas.
“Seorang gadis cantik memberimu cahaya” ujar sang dokter.
“Di mana dia?”
“Dia hanya menitipkan sebuah buku dan secarik surat buatmu” sang dokter memberiku sesuatu.
“Jangan mati, kau harus bertahan untuk hidup” membaca sebuah tulisan.
“Dia Luan” menyadari sesuatu.
“Dimana dia sekarang?”
“Dia menjalani pengobatan kanker, yang pada akhirnya hidup tidak berpihak buatnya” kalimat sang dokter.
“Kenapa?”
“Karena saya menyukai dirinya, seperti itulah cara dia berkata-kata” sang dokter menjelaskan sesuatu di hari terakhir hidupnya sebelum pergi.
Gadis tidak kukenal mendekap tubuhku untuk memberi kahangatan? Hal lebih kacau lagi adalah memberiku sepasang cahaya? Sedang, keluargaku sendiri tidak pernah perduli tentang hidupku?
Berjalan ke rumah peristirahatan terakhirnya dengan kaki gemetar. Entah apa yang ada di pikirannya tentangku? Hal terbodoh yang pernah dilakukan oleh seorang gadis buatku?
Apa yang terjadi? Saya melihat pria itu menangis tanpa henti sambil memegang batu nisan Luan. Hatinya terlihat hancur karena kepergian Luan. Andai saja, seseorang dapat berdiri di sampingku seperti dirinya...
“Apa yang sedang kupikirkan?” menepuk kepalaku.
Dia tidak berkata-kata, tetapi air matanya terus saja terjatuh. Diam membisu memperhatikan tingkahnya dari tempat persembunyian. Gadis paling beruntung hingga membuatku iri terhadap Luan.
3. Bahasa cinta di ruang tidak terduga...
Pria itu berjalan pergi meninggalkan rumah peristirahatan Luan. “Kenapa kau ingin memberiku sepasang kehidupan?” pertanyaan buat Luan.
“Saya hanya perempuan kotor, ngerti?” tertawa sinis seketika menatap batu nisan miliknya.
Merenung seorang diri tentang kisah gadis tidak kukenal. Dia gadis sempurna dengan kehangatan keluarga yang cukup. Kenapa dia memang membuatku penasaran?
“Buku apa ini?” mulai penasaran.
Mencoba membuka lembaran pertama dari buku tersebut dalam kamarku. Sesuatu yang sulit kujabarkan sedang bercerita. Apa ini?
Diary...
Namaku Luan. Hidupku sedang tidak baik-baik saja. Berjalan di dalam lorong gelap rasanya sangat menyakitkan. Ruang hatiku selalu saja terluka tanpa jedah iklan.
Apa saya bisa mendaki sebuah gunung sambil tersenyum? Apa saya bisa berjalan di dalam badai sambil menari? Ribuan pertanyaan mengudara begitu saja.
Permainan hidup seolah ingin mencabik alur cerita hidup Luan. Puzzle itu selalu saja menjadi misteri tidak terkendali menghardik di dalam bayangan alur cerita. Tarian menakutkan bergema sepanjang jalan hingga menciptakan kesunyian paling mengerikan.
Luan...
Halaman pertama menyatakan sebuah cerita menakutkan di balik senyum seorang Luan. Apa hidupnya jauh lebih menakutkan?
Dia berjalan mendekap tubuhku malam itu ketika pintu pertahananku runtuh untuk bertahan. Pertama kalinya, seorang Rae merasakan kehangatan yang tidak pernah bisa diberi oleh mama ataukah ketiga kakakku. Tidak pernah kusangka kalau ternyata dia juga mengalami sebuah cerita menakutkan.
Diary...
Saya berjalan seperti manusia bodoh di tengah gelapnya malam. Kesepian, kekosongan, hambar, luka, rasa sakit menyatu membungkus tiap langkah kaki yang sedang berjalan. Apa saya bisa tersenyum ketika sesuatu merobek sekaligus mencabik banyak objek di dalam sana?
Terlihat memiliki keluarga, tetapi semua hanya berperan sebagai hiasan. Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi dalam keluargaku. Duduk menangis pada sudut lemari sambil bersembunyi. Seorang Luan hanyalah gadis kecil lemah tanpa kekuatan.
“Luan, apa hidupmu sudah berakhir?” suara hati berbisik di dalam sana.
“Luan, sembunyi saja terus di sudut pintu itu” sebuah pernyataan berteriak kembali di ruang terlemah dalam diri gadis kecil.
Pertengkaran antara papa dan mama memang sering terjadi tiap detik. Papa merasa memiliki IQ cukup tinggi sehingga selalu saja berbicara panjang kali lebar kali tinggi. Di tempat lain, mama juga berkata tentang sekolah dan prestasinya dengan kata lain juga menyatakan IQ di atas rata-rata.
Apa ini yang dinamakan hidup? Satu sama lain tidak pernah mengalah, bahkan bisa dikatakan tonjok menonjok sering terjadi. Sosok Luan si’gadis kecil duduk dengan penuh ketakutan pada sudut ruang tidak terlihat.
Saya selalu bermimpi buruk tiap malamnya. Apa ini yang dikatakan kebahagiaan bagi seorang gadis kecil sepertiku? Luan, tetaplah bersembunyi di balik pintu itu!
Andai saja, dua kaki gadis kecil itu dapat berlari cukup kuat. Dia terlalu lemah hanya untuk berjalan. Apa bisa gadis kecil dengan segala kelemahannya dapat berlari dari ruang ketakutan, sekali saja?
Luan...
Membaca lembar demi lembar isi buku tersebut membuka dua bola mataku tentang kehidupan kejam. Saya selalu merasa kalau seorang Rae Avery merupakan satu-satunya manusia paling menderita ketika berjalan di sebuah alur cerita. Ternyata, pemikiran tersebut mulai goyah oleh sebuah diary.
“Rae, setidaknya beri dirimu kesempatan untuk bertahan” suara hati bergema.
Puzzle-puzzle itu selalu saja mempermainkan dua kaki di tempat tidak terduga. Alunan musik ratapan memang akan tetap bermain sambil menari di sudut persimpangan. Apa dua kaki dapat mengambil star untuk sebuah kekuatan, sekalipun kosakata kemustahilan sepertinya tertawa di dalam sana.
“Pria itu” tersadar sesuatu ketika sedang berjalan di sebuah pinggiran danau.
Tubuhnya tinggi, berkharisma, dan wajahnya berada di atas rata-rata. Apa dia sudah lupa tentang kisah Luan? Kenapa berjalan bersama seorang wanita? Dasar laki-laki...
Saya duduk memperhatikan apa yang sedang terjadi. “Hazel” ucapan wanita cantik di sampingnya.
“Dengar, Luan sudah meninggal” ucapan wanita cantik kembali.
“Sampai kapan hidupmu diam membisu seperti manusia bodoh?” ujarnya lagi.
“Ternyata dia bernama Hazel” bergumam pelan.
Pria itu hanya diam membisu seolah tidak ingin membalas sepatah katapun. Tiba-tiba saja saya harus berlari mencari persembunyian setelah dia sedikit menyadari keberadaanku tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Bagaimanapun, di hati pria tersebut hanya ada satu nama. Setidaknya Luan masih jauh lebih beruntung dibanding kehidupanku.
“Saya dengar, Luan mendonorkan dua matanya untuk seseorang” kalimat wanita cantik tadi hingga membuatku sedikit tersedak.
“Siapa dia?” pertanyaanya kembali.
“Bukan urusanmu” jawaban pria tersebut terdengar sangat dingin.
Dia tahu kalau dua bola mata milik Luan diberikan buatku? Artinya, dia mengenalku. Apa dia akan berjalan ke arahku sambil memaki?
“Sepertinya, saya harus berlari meninggalkan mereka berdua” segera berjalan pelan sambil menutup seluruh wajahku memakai kain di tangan.
“Ingat, kita berdua sudah bertunangan” penekanan wanita cantik masih terdengar sepintas di telingaku sebelum akhirnya tubuhku beranjak dari tempatnya meninggalkan mereka.
Ternyata wanita cantik itu merupakan tunangan sang pria tampan. Apa yang salah dengan kalimat tadi? Lagian, Luan sudah meninggal dan tidak mungkin kembali.
Kenapa raut wajah pria tersebut terus saja gentayangan. Seolah perasaan tidak bahagia terlukis di sana. Apa yang salah? Dingin, diam, sarkas, berkharisma menggambarkan dirinya.
“Wajar saja dia tidak bahagia” bergumam dalam kamar.
“Luan baru saja meninggal, lantas dirinya harus kembali menjalani kehidupan normal” berkata-kata.
Tidak pernah kusangka kalau pria semacam dirinya masih ada di dunia. Dia rela memberikan dua bola mata Luan untuk seorang perempuan kotor sepertiku? Sulit dipercaya...
Saya seolah bersembunyi jauh dari semua orang. Berpikir tentang pertahanan menyatakan suatu ruang di dalam sana. Saya tidak ingin berjalan ke arah pria yang sudah merelakan dua mata Luan demi perempuan kotor sepertiku. Berpura-pura tidak tahu jauh lebih baik...
“Rae, jalani hidupmu sekali lagi!” mencoba memberi kekuatan terhadap diri sendiri.
Saya ingin memulai kehidupan baru. Tuhan, apa saya bisa berjalan keluar dari lumpur kotor itu? Entah mengapa, kosakata Luan melalui buku di depanku membuatku ingin berlari keluar dari lumpur.
“Hidupmu terlalu berharga” membaca sepenggal kata pada pertengahan buku tersebut.
“Jangan sia-siakan hidupmu!” tulisan Luan berikutnya.
Saya baru membaca beberapa lembar pada halaman depan. Namun, tiba-tiba saja dua tangan ditarik untuk segera membuka pertengahan halaman lainnya. Luan seolah menjelaskan sisi gelap hidupnya pada bagian halaman depan.
“Apa dia tahu kalau hidupku juga menakutkan sama seperti dirinya?” menarik napas panjang.
Saya kembali menjalani hidup sebagai seorang sales pada sebuah perusahaan. Belajar untuk tidak menyentuh batang rokok, sekalipun terlalu mustahil untuk dilakukan. Mencoba berjalan tanpa berpikir tentang ketidakadilan sedang berproses di dunia seorang Rae Avery.
“Apa pun masalah anda di rumah, solusinya Cuma satu” mencoba meyakinkan costumer di sebuah pusat perbelanjaan.
“Alat ini dapat membantu seluruh aktivitas anda di rumah” berujar kembali.
Sepasang kekasih tiba-tiba saja berjalan ke arahku. Apa saya mengenalnya? Jelas, ruang di dalam sana mengenal dirinya.
“Hazel, produk ini sepertinya bagus” kalimat wanita cantik.
“Kalau kita sudah menikah artinya alat ini sangat dibutuhkan” ungkapnya lagi.
Hazel Cuma diam membisu seolah tidak pernah ingin peduli perasaan tunangannya. Si’ wanita sibuk mencintai, sedang sang pria seolah tidak pernah perduli. Kisah percintaan dramatis...
Sang pria bersama sikap dinginnya berjalan pergi. “Jangan sia-siakan mata Luan, ngerti?” tiba-tiba saja dia berjalan kembali, kemudian berbisik pelan di tekingaku.
Saya hampir jatuh karenanya. Dia menyadari sesuatu hal. Saya berjuang keras untuk berpura-pura tidak tahu menahu tentang apa pun. Apa saya harus mengungkapkan rasa terima kasih?
“Apa kau mengenal dia?” wanita cantik terkejut seketika.
“Entahlah” Hazel menarik napas panjang.
“Apa kalian saling kenal?” pertanyaan wanita cantik lembali.
“Tidak saling kenal” Hazel.
“Lantas?” wanita cantik.
“Kupikir dia mencuri sesuatu, tapi sepertinya saya salah” Hazel.
“Oh begitu” wanita cantik.
“Hava, berhenti mencurigai sesuatu!” penekanan Hazel.
Ternyata nama wanita cantik adalah Hava. Apa yang sedang kupikirkan? Hazel mengenalku sejauh yang kupikirkan. Dia mengenali wajahku sejak pertama kali kami bertemu. Menggendong Luan? Kupikir dia tidak melihat wajahku...
“Jangan sia-siakan mata Luan, ngerti?” ucapannya sampai terbawah ke dalam mimpiku.
“Kenapa saya jadi ketakutan begini?” menggerutu kesal.
Sosok Rae Avery tidak pernah takut terhadap siapapun. Lamtas, sekarang? Penekanan kalimat Hazel membuatku tidak berkutik sama sekali.
“Dia terlalu dingin” kalimatku membayamgkan wajahnya.
“Dia menankutkan, lebih tepatnya” berkata-kata kembali.
Kenapa Luan ingin mengorbankan dua bola matanya buatku? Apa dia tidak tahu kalau Hazel seolah ingin memakan diriku hidup-hidup? Memangnya, saya meminta Luan mengorbankan dua bola matanya?
“Saya sama sekali tidak mengenal Luan” ujarku pelan.
“Terlebih Hazel” kalimatku sekali lagi.
“Kenapa Hazel dengan begitu mudahnya bertunangan, pada hal Luan baru saja meninggal?” pertanyaan seorang Rae.
“Bukan urusanku” berdengys seketika.
“Apa yang kau sukai dariku?” pertanyaan yang imgin kulepmparkan ke arah Luan.
Saya seorang perempuan kotor paling menjijikkan. Kehidupanku tidak seperti dirinya, bahkan sangat jauh berbeda. Apa iya, hidupku berharga?
“Pemabuk”...
“Penjudi?”...
“Menjadi simpanan aki-aki keladi” ...
“Penderita insomnia”...
“Perokok”...
“Penderita anxiety”...
“Dan masih banyak lagi hal-hal menakutkan dalam diriku” berkata-kata seorang diri sambil menatap buku pemberian Luan.
“Apa yang kau sukai dariku?” bergumam sambil membayangkan senyum seorang Luan.
Saya tidak bisa menjadi seorang Luan. Kehidupanku berbanding terbalik dari kisah hidupnya. Bagaimana bisa, dia berkata tentang menyukai? Dia tidak pernah tahu bagaimana dua kaki selalu saja berjalan di dalam kegelapan.
“Saya akan selalu menyukaimu apa pun yang terjadi” seolah tulisan Luan di halaman belakang tertuju buatku seorang. Apa ini yang yang dinamakan, bahasa cinta di ruang tidak terduga?
“Kenapa saya melompat membaca ke halaman belakang?” berdengus kesal..
“Saya Cuma penasaran saja” kalimatku lagi.
4. Menari di dalam lorong kecil...
Apa yang sedang kupikirkan? Entah kemasukan angin apa, hingga dua tanganku kembali membuka halaman depan dari buku tersebut. Sesuatu membuatku bergetar seketika...
Diary...
Tuhan, entah kekuatan seperti apa yang sedang kumiliki, sehingga dua tanganMU mengizinkan sesuatu terjadi terhadap alur cerita gadis kecil yang selalu saja bersembunyi pada pintu belakang. Saya ingin belajar tersenyum seolah semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Diam seribu bahasa di dalam rasa takut luar biasa...
Keputusan papa dan mama sudah bulat tentang perceraian. Gadis kecil harus belajar hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Apa ini yang dikatakan kehidupan? Senyum itu merekah Di balik rasa sepi, sakit, luka, hati yang hancur berkeping-keping.
Papa menjalani hidupnya, tanpa pernah tahu kalau ternyata gadis kecilnya sedang menangis keras sambil bersembunyi di balik sudut pintu seperti biasa. Tuhan, andai saja Luan tidak dilahirkan ke dunia paling menakutkan. Kenapa hidup tidak pernah adil?
“Mereka berdua terlalu egois” suara hati berbisik di dalam sana.
Seiring berjalanmya waktu, papa sudah memiliki keluarga baru. Bagaimana denganku? Di tempat lain, mama juga memiliki keluarga baru, bahkan lebih sadis dibanding pemikiranku. Mama selalu saja berganti pasangan.
Mengikuti mama bukan keputusan tepat bagi gadis kecil sepertiku. Hal lebih buruk lagi adalah saya menjadi korban pemerkosaan ayah tiriku. Apa ini yang dikatakan hidup?
“Luan, anggap saja semua ini hanya mimpi buruk belaka” suara hati bergema.
“Luan, tersenyumlah seperti biasa seolah tidak terjadi sesuatu apa pun!” memberi semangat terhadap diri sendiri.
Di balik senyum itu ada sebuah luka membungkus tiap detiknya. Saya hanya ingin menangis sejadi-jadinya pada sudut pintu belakang seperti biasa. Gadis kecil tumbuh menjadi gadis remaja tanpa arah hidup.
Kesepian, ketakutan, kehidupan hambar, luka, rasa sakit, kekurangan kasih sayang berbaur menjadi satu. Saya hanya ingin mati menjadi sesuatu hal yang kuinginkan. Apa ada orang yang mengerti hidup gadis kecil?
Luan, apa gunanya bertahan hidup? Sepertinya jauh lebih baik kalau kau melenyapkan nyawa saja. Kapan saya mati?
Luan
Ternyata hidup yang dikatakan penuh senyum memiliki luka menakutkan di dalam sana. Hidup Luan jauh lebih menyakitkan dibanding apa yang sedang kujalani. Apa bedanya dengan mama? Selalu berperan sebagai pelacur? Lebih mementingkan memuaskan birahi?
Terkadang seorang ibu yang ditinggal pasangan sepertinya selalu menjadi wanita egois. Apa kepuasan seksual jauh lebih berharga dibanding anak sendiri?
Entah perpisahan dengan suami karena perceraian atau kematian, setidaknya jangan menjadi seorang ibu yang egois tanpa pernah memperhatikan perasaan sang anak. Tidak menjadi masalah kembali menjalani kehidupan normal ingin dicintai oleh seseorang, hanya saja belajarlah berpikir bijak tentang perasaan seorang anak. Terlebih ketika perpisahan dengan pasangan baru saja terjadi.
Jangan karena hubungan dengan pasangan baru menjadi akar pahit tidak terlihat yang akan tumbuh secara menakutkan di dalam ruang tersembunyi seorang anak. Hai orang tua, bijaklah ketika berjalan di sebuah alur cerita anakmu sendiri! Jangan menjadi egois!
Jangan menjadi orang tua yang hanya mementingkan kepuasan seksual sendiri tanpa memikirkan luka dalam diri sang anak! Pertama kali, saya menyadari kehidupan perceraian orang tua memiliki kesamaan dengan anak yang lahir tanpa pernikahan sama sekali.
“Kenapa Luan mendekap tubuhku dengan hangat? Pada hal ruang dalam dirinya sendiri selalu saja terluka?” pertanyaan yang masih terus bermunculan.
“Tetaplah hidup!” ingatan pernyataan sosok Luan
“Kenapa?” suara hati berbisik.
“Kenapa kau begitu kuat?” pertanyaan yang ingin kulemparkan terhadapnya.
Diary...
Apa saya bisa berjalan normal seperti biasa? Saya ingin menari di dalam lorong kecil. Meninggalkan mama merupakan jalan terbaik, menjalani hidup bersama dengannya.
“Luan, anggap saja semua yang terjadi hanya mimpi buruk belaka” suara hati berdesir berjuang keras melupakan semua yang sudah terjadi.
Apa mama pernah tahu kalau anaknya menjadi korban pemerkosaan suami sendiri? Luka itu berkecamuk di dalam sana. Rasanya hidup Luan mengalami kesulitan untuk menari di dalam lorong kecil.
“Luan, memangnya bisa hidup tanpa mama?” pertanyaan mama seolah tidak pernah tahu tentang luka di dalam sana.
“Luan, memang bisa berjalan seorang diri?” pertanyaan mama sekali lagi.
Di mana kekuatan Luan? Kenapa saya tidak pernah bisa menjawab setiap pertanyaan mama. Sepertinya, air mataku habis lenyap ditelan bumi hingga saya tidak lagi menjatuhkan tangisan. Sudut pintu itu menjadi saksi bisu bagaimana gadis kecil hidup dalam ketakutan setiap detiknya.
Dua kaki berjalan tanpa arah di tengah hujan deras. Tuhan, rasanya sangat sakit menjalani hidup di lorong kecil. Hai jiwa, kenapa dirimu selalu saja diam seribu bahasa di dalam sana? Kenapa dirimu membiarkan semua luka menikam begitu keji?
“Tuhan, apa diriMU memang ada?” berteriak sekeras mungkin di tengah derasnya hujan.
“Saya butuh dekapan hangat, apa salah?” berteriak keras di tengah kesunyian malam.
“Saya ingin mati” kembali tangisan Luan pecah seketika.
“Apa kau butuh dekapan?” tiba-tiba saja seseorang berteriak di belakangku.
Dia berjalan ke arahku sambil tersenyum. Seorang wanita tua berdiri menatap seolah tahu bagaimana rasa sakit di dalam sana. “Tetaplah hidup, sebesar apa pun lukamu” mendekap erat tubuhku.
“Kau tidak pernah sendiri” mencoba menghapus butiran kristal di mataku di tengah hujan deras.
Tubuhku diam membisu seketika. Dekapan yang tidak pernah bisa diberikan mama dan papa, pada akhirnya diberi olehnya. Wanita tua menepuk-nepuk tubuhku. “Tidak masalah kalau kau ingin menangis sekeras mungkin, hanya saja, dua kakimu harus tetap berjalan sebesar apa pun lukamu” ujarnya membawaku ke sebuah rumah kecil sederhana.
Apa yang dia lakukan? Merawatku dengan kehangatan seolah membuatku lupa untuk beberapa saat tentang semua akar hidup paling menakutkan. Apa saya bisa berjalan normal sama seperti orang lain?
Pertama kalinya, seorang Luan dapat tertidur lelap tanpa rasa takut sama sekali. Saya tidak harus bersembunyi di balik sudut pintu kamar rumah wanita tua. Kekosongan di dalam sana sepertinya ditutup rapat oleh dekapan hangat darinya.
Luan
Butiran kristal mengalir begitu saja membasahi wajahku. Luan tahu apa yang sedang kujalani. Dia mengerti bahasa tetesan air mata bersama kekosongan di dalam sana.
Luan hanya seorang di antara sekian banyaknya anak dengan luka tersembunyi di dalam sana. Menari di lorong kecil? Memang bisa?
Saya dengan segala akar kecewa sedang berjuang mencari jati diri di banyak cerita menakutkan. “Tempat apaan ini?” melewati sebuah rumah kecil ketika berjalan pulang dari tempatku bekerja.
Entah kenapa, saya ingin berjalan masuk ke dalam rumah kecil tadi. “Sesakmu, sakitmu, lukamu bukan sebuah alasan untuk menyerah terhadap hidup” sebuah tulisan terpampang manis pada salah satu dinding rumah tersebut.
Sepertinya Tuhan memang sengaja membuat dua kakiku terhenti disini. Bukan sebuah alasan atau secara kebetulan sehingga dua bola mataku menemukan rumah kecil ini. Terdapat 3 barisan kursi sedikit panjang dalam rumah.
Seorang wanita sederhana, tetapi tetap terlihat cantik membawa 3 anaknya masuk. Mendekap kuat anak-anaknya dan duduk tersungkur pada barisan kursi pertama. Apa dia tidak mengetahui kehadiranku di belakang.
“Andai saja Rae memiliki mama seperti dirinya” suara hati seperti biasa bergema.
Dia terus mendekap ketiga anaknya seolah ingin memberitahu mereka tentang kasih sayang seorang ibu. Air matanya jatuh mengucur membasahi wajahnya. Tuhan, apa salah hidupku ingin memiliki mama seperti dirinya?
“Mama tidak pernah ingin tahu sakitku seperti apa” berkata-kata dalam hati.
“Mama hanya tahu memanfaatkan semua anaknya sebagai sumber keuangan” kembali sesuatu diungkapkan di dalam sana.
“Tidak menjadi masalah, semua anaknya menjadi pelacur seperti dirinya ataukah melakukan kejahatan lain asal menghasilkan uang” berusaha menahan isak tangis.
Wanita di depanku berbeda. Terlihat jelas di matanya tentang kelembutan seorang ibu. “Apa mama akan pergi seperti papa?” anaknya yang paling besar tiba-tiba saja melemparkan pertanyaan.
“Apa mama juga ingin menikahi pria lain seperti kebanyakan ibu di luar sana setelah kematian suami mereka?” pertanyaan si’sulung. Usia sang anak sulung menjelaskan kalau dirinya sedang memasuki usia remaja dan mengerti tentang sebuah hubungan.
“Bagaimana kalau mama memiliki anak dari pria itu, lantas akan melupakan kami begitu saja?” anak tengah mulai berkata-kata dengan nada meninggi.
“Mama akan memiliki keluarga baru lagi?” si’bungsu dengan hati hancur menatap sang ibu.
Ternyata dia sama saja seperti nenek lampir, hanya mementingkan kepuasan birahi semata. Dasar munafik! Penampilan saja yang sederhana, tetapi semua bersifat palsu.
“Dia sama saja dengan orang tua Luan dan nenek lampir” berdengus kesal.
“Apa mama sejahat itu?” sang mama melemparkan pertanyaan balik.
“Memang jahat” ujarku pelan.
“Tapi mama tidak berkutik depan om Vi” si’sulung.
Kenapa hanya perasaan orang tua saja yang harus dimengerti? “Saya akan tetap menjadi anak paling egois, kalau menjadi anaknya” berkata-kata di dalam sana.
Bagaimana reaksi ibu di depanku? Penilaianku tentang dirinya salah. Dia sama saja dengan nenek lampir. Tidak pernah berpikir tentang perasaan anak-anaknya.
“Dasar air mata buaya” mengejek wanita tersebut.
“Apa mama sejahat itu di mata kalian?” kalimatnya.
“Mungkin, sudah sejak dulu mama menikah kalau tidak memikirkan kehidupan kalian bertiga” jawaban di dalam isak tamgisnya.
Apa saya salah menilai dirinya? “10 tahun menjanda, karena mama tahu resiko plus mines di depan ketika membuka hati terhadap seorang pria” ujarnya kembali.
Artinya? Suaminya meninggal ketika si’bungsu masih bayi? Kenapa saya bisa menebak? Usia si’bungsu dapat di tebak, hanya dengan melihat wajahnya. Wanita tersebut benar-benar bertahan? Kalau mama mana tahan untuk tidak melampiaskan birahinya? Lebih parah lagi, Luan hingga menjadi korban pemerkosaan.
Semua pria gila yang mama bawah mati ketakutan tiap melihat ke arahku. Pertanyaan sekarang, kenapa saya terkadang menjadi simpanan? Jawabannya ada pada kosakata keuangan dan sebagai penghibur sejati...
“Mama memiliki 2 anak gadis yang harus tetap dijaga, sehingga dua kaki tidak mungkin berjalan di tempat yang membahayakan mereka” ucapan sang wanita kembali.
Dia berjuang keras menahan diri untuk tidak berhubungan dengan pria manapun? Sesuatu pakai banget. Ada banyak anak menjadi korban pemerkosaan dari orang tua sambung sehingga menjadikan kehidupan mereka hidup dalam sebuah trauma tanpa seorangpun ingin tahu ataupun mengerti. Jangankan orang tua sambung, orang tua kandung sendiripun selalu saja menjadi iblis hingga memperkosa anak kandungnya sendiri. Apa ini yang dikatakan hidup?
Hai para wanita, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menikah setelah perpisahan dengan pasangan, entah karena perceraian atau kematian. Hanya saja, jadilah bijak tentang perjalanan hidup anakmu ke depan terlebih ketika dirimu memiliki anak perempuan. Jangan menjadi egois dengan perasaanmu seorang diri! Pikirkan, ketika hidupmu memiliki keluarga baru dan kehadiran anak di tengah-tengah hidupnya.
Tidak menjadi masalah menikah, asalkan pastikan karakter pasangan di depan matamu. Memiliki keluarga alias pasangan baru tetap memiliki dampak plus mines bagi seorang anak. Mendapat figur pengganti ayah terbaik bagi kehidupan seorang anak ibarat mencari jarum di antara tumpukan jerami. Butuh kewaspadaan penuh, dan tidak seindah pemikiran orang di luar sana.
Begitupun sebaliknya bagi para ayah, jangan terburu-buru menikah ataukah memiliki pasangan baru! Semua memiliki resiko di depan. Pada dasarnya tiap manusia membutuhkan teman hidup, entah karena permasalahan seksual ataukah kesepian ataukah perhatian dan objek lain. Hanya saja, bijaklah untuk berjalan di depan mata sang buah hati!
“Gimana rasanya dipeluk ayah?” membayangkan sesuatu hal dalam diriku...
5. Gemerincing nyanyian luka selalu saja tertawa keras...
Apakah alur ceritaku dapat menari di tengah sudut persimpangan. Tuhan, maaf atas rasa kecewa ketika hidup selalu meluapkan kemarahan terhadapMU. Entah kenapa, seorang Rae Avery menciptakan statement seperti tadi. Apa dua kaki sedang ingin belajar mencari wajah Tuhan? Entahlah...
“Kenapa Luan bisa berlari dari gemerincing nyanyian luka yang selalu saja tertawa keras?” pertanyaan itu tiba-tiba saja mengudara.
Terlahir tanpa ayah rasanya menyakitkan. Rae Avery haus dekapan seorang ayah. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku, hanya saja banyak mata melemparkan tatapan jijik ke arahku.
Kenapa sosok Rae terkadang menjadi simpanan pria tua? Sepertinya, saya sedang mencari kehangatan seorang ayah yang sama sekali tidak pernah kuraih.
“Belajarlah tersenyum di dalam gemerincing nyanyian luka yang selalu saja tertawa keras” membaca tulisan Luan pada salah satu halaman tengah.
“Pernyataan bodoh” ujarku seketika.
Kenapa bisa? Hal seperti itu terlalu sulit dilakukan, terlebih ketika luka di dalam sana berteriak begitu kuat. Bagaimana bisa dua kaki dapat berjalan dengan satu senyum?
Diary...
Suara gemerincing di sudut persimpangan seolah memberi isyarat tentang objek pertahanan. Apa dua kaki dapat berjalan tanpa melihat serpihan-serpihan menakutkan di belakang sana? Hai jalan setapak, sekali saja dirimu tersenyum ke arahku tanpa tarian menakutkan...
“Kau tidak sendiri” wanita tua mendekap kuat tubuhku di rumah sederhana tanpa kemewahan.
Sosok Luan diam membisu setelah bangun dari tidur nyenyaknya. Sepertinya, saya lupa tentang kosakata ingin mengakhiri hidup selama beberapa saat. Dia mendekap erat tubuhku.
“Percaya tidak percaya, bintang timur di atas sana dapat membalut ribuan lukamu” kalimat wanita tua.
“Bintang timur?”
“Dia tahu seberapa keras air matamu mengalir” ucapan sang wanita tua sambil terus mendekap hangat tubuhku.
Apa Bintang timur itu memang ada? Kenapa dia menyebut kosakata di dalam rasa sesak yang tidak mungkin bisa dimengerti? Kenapa bisa? Kalau memang mengerti, tidak mungkin juga membiarkan hidupku terus saja terluka sejauh ini.
“Sesakmu, lukamu, tangismu selalu dilihat” ujar sang wanita tua.
“Siapa?” pertanyaanku tiba-tiba.
“Kalau kau percaya, ruang hatimu dapat dipulihkan” wanita tua.
“Siapa?”
“Sekali lagi Bintang Timur” wanita tua tersenyum ke arahku.
Senyuman wanita tua seolah memberi kekuatan di dalam kehangatan. Bunyi gemerincing luka sepertinya diam membisu di dalam sana. Wanita tua dengan sabar mengajari sosok Luan untuk mengerti tentang pemulihan hati.
Dia membuatku terikat dengan rumah kecil sederhana. Senyuman itu sepertinya menghancurkan tiap gerbang luka di ruang tersembunyi. Saya tidak pernah tahu rasanya memiliki rumah, tetapi dia memberiku sesuatu yang tidak pernah kudapat.
Kehangatan rumahnya seolah mendekap hangat ruang di dalam sana. Saya kehilangan rumah, hingga membuatku ketakutan seketika. Bersembunyi, duduk terpojok, menangis, terlihat seperti manusia bodoh menjadi gambaran sosok Luan. Sepertinya Tuhan memang sengaja membuatku bertemu dengannya.
“Apa saya bisa bertahan?” pertanyaanku terhadapnya.
“Beri dirimu kesempatan untuk bertahan!” ucapan wanita tua.
“Kalau saya gagal?”
“Kalau gagal, sekali lagi, beri kesempatan terhadap dua kakimu untuk bertahan” ujarnya.
“Kalau saya gagal lagi, gimana?”
“Setidaknya kau harus kembali mencoba dan mencoba kemudian mencoba lagi lantas mencoba dan mencoba hingga dirimu dapat berjalan pada alur garis finish terbaik” pernyataan wanita tua.
Sepertinya saya harus belajar berjalan seperti ucapannya. Belajar untuk tersenyum di ruang menakutkan. Belajar memberi diri kesempatan tanpa jedah iklan. Hal lebih mengerikan lagi adalah saya menemukan tubuhku berbadan dua. Apa saya harus kembali memberi diri kesempatan untuk bertahan?
“Hamil dari suami mama?” tertawa sinis seketika.
“Apa saya harus bertahan?” sekali lagi tertawa sinis.
Tangis Luan meraung-raung seketika. Duduk terpojok pada sudut pintu kamar dalam ruang ketakutan. Rasanya sangat sakit, sesak, menakutkan berbaur menjadi satu. “Kau tidak sendiri” wanita tua tiba-tiba saja datang mendekap hangat tubuhku.
“Apa saya bisa memberi kesempatan sekali lagi terhadap diri sendiri?” ujarku dalam isak tangis.
“Luan hanya perlu menangis sekeras mungkin” kalimat wanita tua.
“Setelahnya?”
“Setelahnya, tidak jadi masalah Luan kembali menangis” ungkapnya semakin kuat mendekap erat tubuhku.
“Setelahnya?”
“Kalau Luan masih ingin nangis, tidak apa-apa nangis lagi” ucapan lembut darinya seolah tahu bagaimana ruang hambar, ketakutan, kesunyian, luka bergemuruh menjadi satu di dalam sana.
“Setelahnya?”
“Setelahnya, beri diri Luan kesempatan untuk bertahan dan membuktikan kalau ternyata Luan kuat” ujarnya.
“Apa saya bisa?”
“Sangat bisa lebih dari yang Luan bayangkan” wanita tua memeluk kuat tubuhku.
“Luan tidak sendiri” sekali lagi memberiku harapan.
Memang apa yang sedang kupikirkan? Air mata itu mengalir deras di balik pintu menakutkan. Berjalan atau berlari? Sebuah pilihan hidup di sudut persimpangan jalan.
Luan...
“Kehidupan menyesakkan” bulir kristal tiba-tiba saja terjatuh seketika.
“Dasar gadis bodoh” mengejek Luan di dalam tangisku seketika.
Bagaimana kalau saya menjadi dirinya? Hamil di usia remaja? Ayah anak dari pria brengsek? Ayah tiri gila sekaligus tua bangka?
“Kalau saya menjadi Luan, mungkin dua kakiku akan berlari cepat mengambil benda tajam lantas menusuk habis-habisan suami-istri tidak tahu malu” berkata-kata seorang diri dalam kamarku.
“Saya akan memutilasi sekaligus memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam blender” rasa geram membayangkan sesuatu hal.
Kalau saya memang sudah kotor sejak dulu, jauh berbeda dengan Luan. Jadi, rasa sesak menjalani dunia seperti itu akan bermain luar biasa.
Menjadi pertanyaan, kenapa banyak remaja mengalami pelecehan hingga pemerkosaan? Bukan hanya remaja putri, tetapi remaja putra pun tidak luput dari banyak pasang mata. Lantas, masalahnya berada dimana? Saya sendiri masih mencari jawaban dari pertanyaan tadi.
Kemungkinan besar, dunia remaja sedang berada di fase proses pematangan organ reproduksi sehingga kondisi tubuh dan wajah mereka selalu terlihat berbeda saja di banding yang lainnya. Hormon dunia remaja mulai berproses di dalam tubuh. Memang sangat sulit menjabarkan antara dunia anatomi secara medis dan proses lain yang sedang terjadi sehingga mempengaruhi segala kondisi seorang remaja.
Bisa dikatakan kalau wajah dan tubuh mereka akan selalu terlihat segar apa pun yang terjadi di mata orang banyak, terlebih orang-orang yang mengalami puber kedua. Mangsa terberat seorang dengan diagnosa puber kedua adalah anak remaja. Sejelek apa pun kondisi fisik seorang remaja bagi seseorang tetap akan terlihat cantik di mata pria tua bangka dengan diagnosa puber kedua.
Segar, berbeda, cantik, memiliki daya tarik tersendiri, bercahaya menjadi gambaran remaja tanpa mereka sadari. Rasa ingin memiliki bermain cukup kuat dari manusia puber kedua terhadap anak remaja tersebut hingga menimbulkan objek-objek menjijikkan seketika.
Hal lebih bodoh lagi adalah dunia remaja masa kini selalu ingin terlihat cantik yang pada akhirnya membuat kehidupan mereka terjebak oleh manusia dengan diagnosa puber kedua. Pada hal wajah di usia remaja tidak boleh tersentuh dengan racikan scincare dan kosmetik-kosmetik di pasaran. Kenapa bisa? Wajah kalian sudah cantik alami sekaligus bercahaya di usia remaja, jadi, jangan membuatnya rusak! Jangankan pria puber kedua, bahkan pria ganteng sekalipun akan tetap melihat bentuk wajah segar bercahaya di mata mereka. Jangan membuat wajahmu tua sebelum waktunya! Jangan tertipu objek permainan pasaran scincare!
“Kenapa saya jadi ngegas begini?”
“Lupakan!” menarik nafas panjang.
Seorang anak tanpa perhatian orang tua kemungkinan terbesarnya adalah dirinya akan menjadi manusia asing tanpa arah. “Sama sepertiku” bergumam pelan.
Diary Luan seolah menyatakan kalau bukan hidupku saja yang sedang berjalan dengan ketakutan sekaligus kekosongan diri. Saya sedang berlari dari semua bahasa menakutkan di suatu tempat. Dua kakiku hanya ingin berada di area dimana tidak seorangpun mengenali diriku. Kenyataannya adalah Tuhan seolah mengizinkan sosok Rae diperhadapkan oleh sebuah peristiwa.
Apa saya harus berjuang untuk bertahan? Rae beri dirimu kesempatan sekali lagi ketika berjalan di sudut persimpangan! Mencoba memberi semangat terhadap diri sendiri.
“Kalau jalan hati-hati” suara seseorang dengan sangat dingin di belakangku.
“Gunakan matamu untuk berjalan!” tegurnya dengan sangat dingin.
Kenapa Hazel berada di belakangku? Memang apa yang sedang kupikirkan? Entahlah...
Berjalan kaki menuju tempat kerjaku memang biasa kujalani sejak saya diterima bekerja. Pandangan kosong, tanpa arah yang jelas, hambar menjadi gambaran langkah kaki Rae seperti biasa. Wajar saja, kalau saya tidak melihat orang di sekitarku.
“Sekali lagi, gunakan mata Luan untuk berjalan dengan benar!” tatapan sarkas darinya.
Sebenarnya, kenapa dia bertunangan dengan wanita lain secepat kilat kalau hatinya hanya buat Luan? Apa Luan menolaknya? Hal terbodoh lagi adalah saya selalu bertemu dengannya tanpa sengaja dimanapun.
“Saya pasti sudah gila” berusaha berlari.
“Kenapa dia lagi?” mencari jalan di tempat lain.
“Ini tidak mungkin” tanpa sengaja sepasang matanya menatap sarkas diriku di sebuah supermarket.
“Sepertinya semua Cuma kebetulan saja” berusaha berlari setelah menyadari kehadiran Hazel pada salah satu pusat perbelanjaan terbesar.
“Kenapa saya harus selalu bertemu denganmu?” berteriak memaki dan tidak lagi perduli sepasang tatapan sarkas darinya.
“Bukan mauku sampai Luan mendonorkan dua bola matanya” bernada kesal ketika kami bertemu kembali di sekitar pasar malam.
“Saya juga tidak mengenal dirimu, ngerti?” berujar kembali.
“Lantas?” Hazel.
“Jangan menekan hidupku dengan bahasa sepasang mata Luan!” penekanan buatnya.
“Luan, maaf atas ucapanku” berkata-kata dalam hati.
Saya seorang dengan karakter keras, judes, tidak suka diserang akan secara spontan menyampaikan bahasa kosakata menghebohkan. Bukan keinginanku mendapat donor mata gratis dari Luan. Entah apa yang ada di pikiran Luan pada saat itu...
“Karena saya menyukaimu” entah mengapa pernyataan dalam buku Luan terus saja gentayangan sekitar kepalaku.
Saya berlari meninggalkan Hazel tanpa mendengar sepatah katapun darinya. Duduk termenung seperti manusia bodoh di tengah kesunyian malam. Suara gemerincing ombak seolah membawaku hanyut dengan perasaanku sendiri. Membiarkan seluruh bajuku basah diterjang ombak pada bibir pantai di tengah kesunyian malam.
“Apa saya harus memberi kesempatan terhadap diri sekali” suara hati berdesik kuat.
“Bagaimana kalau saya gagal?”
“Bagaimana kalau dua kakiku berjalan lemas seolah menyerah terhadap keadaan untuk kesekian kalinya?”
“Apa saya bisa?” tertawa sinis.
Saya sedang berjuang melawan kehidupan di dalam ketakutan, hambar, kosong, tidak berharga, kotor, tidak memiliki kekuatan untuk bertahan, ingin mati, dan masih banyak lagi. Memang betul diary Luan seolah sedang berjuang membuka ruang hambar di dalam sana untuk mengerti tentang sesuatu. Hanya saja, di tempat lain, terkadang membuatku ragu untuk bertahan. “Luan saja ragu terhadap dirinya, bagaimana denganku?” bergumam seorang diri.
6. Kau tidak sendiri...
Suara gemerincing di jalan setapak menari dengan sukacita oleh karena sebuah keheningan. Puzzle-puzzle itu tertawa sinis menatap sepasang kaki yang sedang melangkah. Kenapa hujan bermain cukup hebat disana? Hai jiwa, sekali saja dirimu berlari dari ruang kesunyian malam di lorong menakutkan itu!
“Apa saya bisa?” menatap buku diary milik Luan.
Hidupku sudah terlalu kotor hingga siapapun melihat ke arahku akan berlari jauh. Kehidupan tanpa cinta menyatakan diri sebagai manusia asing dengan kisah menakutkan di dalamnya. Saya ingin berjuang, hanya saja sebuah benteng cukup hebat menghalangi sepasang kaki untuk berlari keluar.
“Terjebak di lorong tergelap” tertawa sinis seketika.
Saya ingin berlari keluar, apa bisa? Tuhan, bisakah diriMU menghancurkan rantai belenggu di dalam sana? Tuhan, balut luka hati dengan ribuan bahasa menakutkan di jalan setapak itu.
“Tuhan, sosok sepertiku butuh kekuatan” suara hati berdesir bahkan berteriak setiap saat.
Saya sedang berjalan di lorong menakutkan hingga membuat tubuhku menjadi terlalu kotor. Tidak seorangpun ingin mengerti bahasa dekapan di jalan setapak tempat dua kaki berdiri tanpa arah. Apa pelita kecil itu akan datang?
“Kau tidak sendiri” tulisan Luan pada salah satu lembar dari diary miliknya.
“Kau hanya perlu belajar tersenyum di tengah hujan deras” tulisan Luan membuatku tertawa sinis seketika.
“Dia sudah melewati sesuatu objek paling menyesakkan, namun seolah lupa atau berpura-pura lupa?” berkata-kata seorang diri.
Saya penasaran dengan cerita lanjutan tentang hidup Luan. Sepenggal kalimat tadi itu tidak berada pada bagian halaman depan bukunya. Rasa penasaranku terlalu tinggi hingga dua bola mataku membaca secara acak dari diary miliknya.
Diary...
Seorang Luan sedang belajar memberi kesempatan terhadap diri untuk bertahan. Rasanya terlalu mustahil untuk dilakukan, hanya saja entah kenapa dua kakiku ingin belajar bertahan. Semua yang terjadi hanya mimpi buruk belaka.
“Luan, beri dirimu kesempatan” suara hati berteriak begitu kuat.
“Tuhan, saya ingin menjadi pemenang” dua bola mataku kembali membentuk butiran kristal seketika.
“Tuhan, beri saya kekuatan” kosakata di ruang dengan begitu banyaknya sayatan menakutkan.
Wanita tua selalu saja mendekap tubuhku tiap saat. Memberiku dekapan hangat hingga membuatku lupa tentang mimpi buruk kemarin. Pertanyaan sekarang, apa saya akan membiarkan anak pria brengsek itu bertahan untuk sebuah kehidupan?
“Menggugurkan? Tidak?” pertanyaan yang selalu menghantui hidup seorang Luan.
“Membiarkan hidup?”
“Membunuhnya?”
“Membiarkan hidup”
“Membunuh”
Tertawa sinis membayangkan seperti apa alur kisah Luan. Tidak seorangpun mengerti tentang bahasa menakutkan di sudut persimpangan. Sekali lagi, saya ingin belajar menjadi pemenang.
“Apa saya bisa bertahan?” melemparkan pertanyaan kembali terhadap wanita tua.
“Menurut Luan?” ujarnya sambil tersenyum.
Wanita tua selalu mendekap kuat tubuhku tiap malamnya. Memberiku rumah yang tidak pernah diberi oleh mama. Kembali mendekap kuat tubuhku ketika saya bersembunyi di balik pintu kamar bersama isak tangisku.
“Luan sama saja dengan pria jahat itu, kalau” ujarnya terhenti.
“Kalau kenapa?”
“Membunuh bayi di dalam perutmu” wanita tua.
Dia tahu pikiranku selama ini tentang ingin kosakata membunuh tanpa belas kasih. Apa saya bisa menghadapi maiian orang banyak? Apa ini yang dikatakan hidup?
“Bayi di dalam rahimmu tidak pernah minta untuk hadir, hanya saja keadaan sedang menciptakan alur ceritanya” kalimat wanita tua.
“Tapi kenapa harus saya?” rasa sesak kembali bertebaran.
“Karena Tuhan tahu Luan kuat” wanita tua.
Saya masih terlalu belia untuk menjalani peran sebagai seorang ibu. Apa ini adil? Melahirkan bayi hasil pemerkosaan? Terdengar menjijikkan...
“Saya ingin belajar menjadi pemenang, hanya saja rasamya terlalu mustahil” tertawa sinis di tengah alur cerita menakutkan.
Kotor, ketakutan, hambar, tanpa arah, tidak berharga, tidak memiliki masa depan menjadi gambaran hidup Luan. Andai saja, saya terlalhir dari seorang ibu terbaik di dunia. Kenapa harus saya? Andai saja, saya memiliki ayah terhebat yang akan selalu ada di samping Luan.
Saya selalu menangis di dalam keheningan malam. Bermimpi buruk tiap malamnya oleh karena sebab akibat dari suatu objek. Tuhan, kenapa memberiku keluarga berantakan? Bisakah waktu berputar kembali? Setidaknya saya bisa memilih dari keluarga mana harus dilahirkan...
“Saya juga ingin di cintai tanpa batas oleh seorang ibu” bulir-bulir kristal kembali bermain.
“Saya juga ingin memiliki ayah terbaik dari para ayah” rasa sesak terus saja bergema.
Saya ingin mengerti bahasa Boundless Love itu seperti apa di sekitar alur ceritaku. Defenisi kosakata dari 2 kata tadi berjalan kemana? Hai jiwa, segitu remuknyakah dirimu hingga membiarkan kebisuan terus saja memainkan perannya dengan sangat baik?
“Apa saya bisa bertahan?” seperti biasa pertanyaan kembali mengudara ketika wanita tua membawaku dalam dekapan hangatnya.
“Kau tidak sendiri” wanita tua membelai rambut hitam panjangku.
“Bagaimana kalau saya gagal?”
“Kalau gagal, Luan tinggal kembali mencoba untuk bertahan” wanita tua.
“Mencoba kembali?” tertawa sinis dalam isak tangis.
Apa yang terjadi selanjutnya? Entah kekuatan dari mana hingga dua kaki belajar untuk bertahan. Terlalu sulit menerima janin yang memang tidak pernah kuinginkan, hanya saja sesuatu objek sedang berjuang menahan diriku. Apa saya bisa berjalan menahan rasa malu? Melahirkan anak tanpa ikatan pernikahan?
“Mama, jangan menjadi jahat seperti dirinya!” suara seorang anak kecil menangis di suatu tempat.
Sepertinya, tubuhku sedang berdiri menatap tubuh mungil tanpa berdaya dari seorang anak kecil. Wajahnya terlihat sedih menatap ke arahku. Duduk seperti manusia bodoh tanpa arah.
“Saya tidak pernah meminta untuk berada di rahimmu” ucapannya dengan wajah lemas.
“Bukan keinginanku dibentuk dalam rahimmu karena peristiwa menakutkan” kalimatnya kembali.
“Ini pasti Cuma mimpi” membuatku ketakutan seketika.
“Saya butuh dekapan mama”...
“Saya butuh mama” kesekian kalinya dia berkata-kata menatap sedih ke arahku.
“Jangan jadi pembenci!” kalimat tersebut membuatku terbangun seketika.
“Cuma mimpi” tersadar sesuatu.
Kehadiran anak dalam mimpiku terasa begitu nyata. Raut wajah kesedihan, kecewa, ingin melemparkan ribuan pertanyaan menggambarkan diri anak tersebut. Apa dia anak dalam janinku sekarang?
“Tuhan, kalau memang luapan emosional anak ini berteriak keras” ujarku sambil memegang perutku sendiri.
“Beri Luan kekuatan untuk bertahan apa pun keadaannya sekalipun semua terasa begitu sesak” kembali berkata-kata...
Saya tidak lagi memukul-mukul perutku seperti yang sudah-sudah kulakukan sambil menangis. Belajar menerima keadaan di depan mata. Dua kaki sedang berjuang melawan rasa takut, kesepian, tanpa arah, kekecewaan di jalan setapak.
“Apa saya bisa memanggilmu mama?” kalimatku terhadap wanita tua.
“Tentu saja” dia selalu mendekap kuat tubuhku.
Tinggal di rumah sederhana, namun memberiku kehangatan. Saya belajar membuat kue darinya. Kami berdua berkeliling menjajahkan hasil kue buatan di rumah.
“Kuenya sangat enak” ucapan salah satu pelanggan.
“Kuenya sangat cantik seperti dirimu” seorang ibu tersenyum hangat ke arahku.
Tinggal jauh dari masa lalu membuatku seolah lupa tentang banyak luka setahap demi setahap. Berjualan kue dengan perut yang semakin membesar membuatku sedikit kesulitan untuk berjalan. “Buatmu” seorang pria tua memberiku sepeda motor bekas.
“Anda siapa?” terkejut.
“Gadis cantik sepertimu ga boleh kelelahan dengan perut besar, kasihan bayinya” ujarnya tersenyum hangat.
Dia mengenalku karena kami memang bertetangga. Tidak melemparkan rasa jijik melihat perutku membesar tanpa pasangan. “Saya bisa menjadi ayahmu kapanpun Luan mau” tiba-tiba saja mendekap tubuhku.
“Anda tahu dari mana namaku?” tersadar sesuatu kalau selama ini kami jarang bertegur sapa sekalipum tetangga dekat.
“Dari orang banyak” ujarnya.
“Mereka semua bilang kalau kue buatan Luan enak” kalimatnya.
Tidak seorangpun dari mereka melempar tatapan jijik ke arahku? Sepertinya mereka hanya melempar senyum hangat ke arahku. Kalaupun mereka melempar caci maki, saya tetap ingin mencoba bertahan di tengah rasa sesak.
“Jangan menyerah terhadap hidup” kalimatnya.
“Maksudku jangan menyerah, menjadi ibu tunggal juga menyenangkan” ungkapnya lagi.
“Anda tahu dari mana?”
“Maksudku tetaplah berjualan kue demi si’kecil” ujarnya.
“Maksudku saya hanya salah bicara saja” membuatnya terlihat kacau.
Saya tertawa keras melihat tingkahnya. “Luan semakin cantik kalau tertawa” dia segera berlari pergi.
Memberiku sepeda motor tua, namun sangat berharga. Terlihat usang, tetapi semua mesinnya masih terawat dengan sangat baik. Kehangatan yang tidak pernah kurasakan, pada akhirnya berjalan mendekap kuat tubuhku.
Luan..
Apa saya juga akan mendapat kehangatan seperti Luan? Saya hanya perlu mencoba untuk bertahan di antara rasa sesak. Tuhan, dua kakiku ingin belajar berjalan di jalan setapak.
Apa yang sedang kupikirkan? “Tuhan, pulihkan ruang hati di dalam sana dengan dekapan hangat dariMU” tiba-tiba saja suara hati berdoa dengan memakai kosakata sedikit berbeda.
Seolah sebuah kekuatan masuk ke ruang menakutkan tadi, dan memberinya sebuah rasa nyaman. Apa Tuhan tetap ingin menatap ke arahku?
“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” tanpa sengaja membaca salah satu lembaran tulisan Luan.
“Kau benar-benar kuat” kagum melihat dunia Luan.
Saya sedang ingin belajar tentang defenisi menjadi pemenang di jalan setapak. Mencoba melewati sebuah alur tak biasa. Sosok Rae ingin tersenyum tanpa melihat luka masa lalu.
Menjalani peran sebagai sales marketing tetap kulakukan. “Produk kami yang terbaik dengan kualitas terbaik” tersenyum lebar di depan seorang costumer tanpa topeng pemaksaan.
“Senyummu hangat” ujarnya terhadapku.
Rasa-rasanya saya ingin menangis terharu mendengar ucapannya. Pertama kalinya, seseorang memberiku pujian tanpa dibuat-buat. Tuhan, sepertinya saya bisa memberi diri kesempatan untuk bertahan.
“Rae pasti bisa” suara hati berdesir seketika.
“Terlalu melamun” seseorang menegurku ketika saya duduk sekitaran halte di tengah kesunyian malam.
“Buatmu” pria tampan memberiku segelas susu coklat hangat.
Kemasukan angin apa hingga Hazel tidak lagi menatap sarkas ke arahku? Dia duduk di sampingku seolah tidak terjadi sesuatu. Jujur, saya tidak terbiasa berkomunikasi dengan pria muda kecuali beberapa tua-tua keladi. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, saya menjalin hubungan dengan tua-tua keladi bisa dihitung tangan, bahkan tidak sampai sepuluhan orang gitulah...
7. You are here...
Sekedar sebagai penghibur di dalam alur tanpa arah. Kehidupan menakutkan membuatku berjalan tidak karuan hingga terjebak oleh sebuah jurang. Alur cerita tanpa dekapan hangat ayah dan ibu akan menjadikan sosok seorang anak akan menjadi monster paling mematikan.
“Maaf membuatmu terintimidasi dengan ucapanku” kalimat Hazel menarik nafas panjang.
“Mungkin, karena saya belum bisa menerima kepergian Luan” Hazel.
Kenapa dia bertunangan dengan wanita lain? Berarti, kenyataannya memang bahasa cinta untuk Luan sudah hilang. Dasar laki-laki...
“Saya tidak mengenal Luan, hanya saja kehadiran dirinya membuatku sedikit berbeda” berterus-terang terhadapnya.
“Luan selalu menjadi gadis baik, tenang, dan tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya” Hazel.
Apa dia tidak tahu bagaimana Luan berjuang keras melawan luka di masa lalu? Apa Hazel tidak pernah ingin mencari tahu?
“Dia benar-benar sangat kuat” Hazel.
“Bahkan dirinya tetap tersenyum detik-detik terakhir dirinya terbaring di rumah sakit” tiba-tiba saja dua bola mata Hazel berkaca-kaca.
Apa dia dipaksa bertunangan? “Sekali lagi, jangan sia-siakan dua bola mata Luan buatmu!” ujarnya.
“Tetaplah hidup sekalipun semua terlihat menakutkan” kalimat Hazel seolah tahu sesuatu hal dalam diriku.
Apa dia sadar tentang dunia tanpa arah dalam diriku? Dia terlihat sarkas terhadapku bukan tanpa alasan? Kenapa bisa?
“Kenapa?” pertanyaanku...
“Luan selalu menatap dirimu dari kejauhan tanpa kau sadar” Hazel.
“Dimana?”
“Ketika Luan berada di sebuah perkotaan yang sama denganmu” Hazel.
“Dari mana kau tahu?”
“Saya selalu berada di samping Luan” Hazel.
“Jadi, saya tahu bagaimana dua bola matanya terus saja menatap seseorang yang selalu duduk termenung di tengah kesunyian malam” Hazel.
“Apa dia tersadar sesuatu?” ruang hatiku berbisik.
“Sepertinya Luan memang sengaja berjalan kaki melewati sebuah jalan hanya untuk memastikan dirimu dalam keadaan baik-baik saja” Hazel.
Hazel mencoba menjelaskan dunia Luan terhadapku. Diam membisu mendengar ucapannya, sedang Hazel sendiri berjalan pergi membiarkan tubuhku tetap berada di halte seorang diri. Ternyata Luan sadar rasa sesak di dalam sana jauh-jauh hari sebelum dirinya berjalan mendekap tubuhku.
Saya tidak pernah menyangka, kalau ternyata seseorang ingin memastikan diriku baik-baik saja. Selama ini, tidak seorangpun ingin tahu kehidupan tanpa ara dari diriku. Saya hanya sampah tanpa nilai sama sekali.
Seekor anjing kecil mengibaskan ekornya tiba-tiba hingga membuatku terkejut. “Apa kau merasa kesepian sama sepertiku?” tersenyum menatap anak anjing di depanku.
“Apa kau memiliki rumah?”
Dia menggonggomg kecil sambil mengibaskan ekornya. Hal terbodohnya lagi adalah anak anjing tadi terus saja mengekor di belakangku. “Bagaimama kalau kau tinggal di rumahku?” mengelus kepalanya.
Anak anjing kecil berlari seketika ke dalam pelukanku. Sepertinya dia akan menjadi penghibur terbaik buatku. Rae Avery bersama cerita terbarunya sedang berjuang mengerti sudut persimpangan.
Saya hampir tidak percaya dengan kejadian belakangan ini. Hazel mencoba berjlalan ke depanku. “Buatmu” memberiku beberapa bungkus kecil permen fruity.
“Apa saya sedang bermimpi?” menatap ke arah tempat Hazel berjalan.
Dia tidak lagi menatap sarkas terhadapku. Sepertinya, Hazel hanya berusaha melindungi dua bola mata Luan. Raut wajah kehilangan memang selalu terekam dalam dirinya.
“Buatmu” kembali memberiku beberapa bungkus permen aneka rasa fruity, kemudian berjalan pergi.
“Apa saya mimpi?” berdiri seperti patung sekitar pusat perbelanjaan.
“Buatmu” memberiku segelas cokelat hangat seperti biasa ketika saya duduk di tengah kesunyian malam halte bis.
Sepertinya, dia tidak pernah bosan memberiku segelas susu cokelat hangat, kemudian berjalan pergi dari pandanganku. Diam seribu bahasa menjadi lukisan hidup Rae. Apa saya bermimpi? Hazel pria tampan memberi Rae si’gadis kotor permen aneka rasa fruity dan segelas cokelat tanpa rasa bosan sama sekali?
“Dia hanya menganggapku Luan” menarik nafas panjang.
“Sekali lagi, saya bukan Luan” berusaha berpikir jernih.
“Terlebih dia tunangan orang lain”...
“Kenapa saya jadi berpikir ke tempat lain?” berdengus kesal.
Menjadi pertanyaan, apa saya pernah menyukai seorang pria muda tampan? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Rae si’gadis kotor tidak berani berjalan atau mengejar cowok dengan kualitas di atas rata-rata.
“Saya juga sadar diri” duduk lemas di sekitaran halte seperti biasa meminum segelas susu cokelat hangat.
“Rae harus bangun dari tidur, ngerti?” berkata-kata terhadap diri sendiri.
Saya tidak lagi mengisap sebatang rokok ketika perasaan kosong mendekap kuat. Dua kaki sedang belajar untuk tidak berjalan ke tempat menakutkan sejenis diskotik, meja perjudian, minuman keras, dan beberapa objek penyimpangan lain. Berjuang menyibukkan diri dengan hal-hal di alur pembentukan.
Apa saya bisa? Setidaknya saya ingin mencoba memberi diri kesempatan. Andaikan gagal, minimal dua kaki ingin kembali mencoba bertahan. Kemudian kembali mencoba dan mencoba, kemudian mencoba lagi. Setidaknya mencoba lagi...
“Tuhan, dua kakiku ingin belajar berkata kalau semua yang terjadi bukan tanpa alasan” suara hati berbisik.
“Saya ingin belajar berkata, Tuhan baik bagaimanapun rasa sesak sekaligus akar kekecewaan tentang hidup mendekap kuat tanpa belas kasih” kembali desiran ruang di dalam sana berteriak cukup kuat.
Anjing kecil mungilku menyambut gembira kehadiranku ketika membuka pintu rumah. Mengibas ekornya berulang kali hingga melompat ke arahku. Sepertinya, Tuhan memang sengaja mengirimnya buatku.
“Fruity” memeluknya sambil tersenyum.
Entah kenapa, saya memberi nama anak anjing mungil ini dengan nama Fruity. Wajah Fruity terlihat manis, mungil, dan terkadang membuatku lupa tentang dunia tanpa arah di dalam sana. Kenapa bayangan wajah Hazel sejenis hantu gentayangan dalam pikiranku?
“Apa saya mulai menyukai dirinya?”
“Apa sosok Rae akan berjalan untuk merebut milik orang lain?” suara hati berkata-kata di dalam sana.
Kenapa Tuhan membuatku memiliki alur cerita gila semacam ini? Saya hanya gadis kotor dan tidak lebih dari objek kata tadi. Tuhan, jauhkan hidup Rae dari perasaan menyukai milik orang lain. Kenapa dia semakin berjalan ke arahku?
“Dia hanya menganggapku sebagai Luan” berusaha menyadari kenyataan hidup di depan mata.
“Cowok mana sih yang berani berjalan ke arahku sambil berkata, saya menyukai dirimu?” tertawa sinis seketika.
“Terlebih dirinya” tertunduk lemas.
“Rae tidak boleh menyukai milik orang lain” memberi penekanan kosakata terhadap diri sendiri.
Kenapa juga saya harus diperhadapkan barang brand sejenis Hazel? Terlebih milik orang lain. Kenapa memberi segelas cokelat hangat ke arah gadis kotor sepertiku yang sedang haus dekapan kasih sayang?
“Buatmu” kembali berjalan ke arahku sambil memberiku segelas susu cokelat hangat.
“Saya bukan Luan” berkata-kata seketika sebelum akhirnya dia berjalan pergi.
Seolah, ucapanku tadi hanya angin lalu, kemudian dua kakinya berjalan pergi. Dia tidak membalas pernyataanku tadi. Saya hanya ingin mencoba menyadarkan dirinya.
“Fruity” memeluk anak anjing mungil dalam kamar setelah duduk termenung beberapa jam di halte bis.
Kebiasaan terburukku adalah menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam duduk termenung seorang diri di halte bis di tengah kesunyian malam. Saya seorang penderita insomnia sekaligus anxiety berat sehingga membutuhkan ruang sebagai penghibur sejati. Saya akan kembali berjalan ke halte bis seperti biasa di jam 10 malam ke atas.
Sejauh ini, saya masih mengonsumsi obat tidur. Setidaknya saya tidak lagi berjalan ke jurang seperti yang sudah-sudah kulakukan. “Hanya menghabiskan waktu di halte bis, apa salahnya?” bergumam pelan.
“Pemberian susu cokelat hangat darinya, terkadang membuatku tertidur lelap tanpa sadar di malam hari” berkata-kata...
“Membuatku ketergantungan” tertawa kacau dalam kamar.
“Sekali lagi, saya bukan Luan” memberi penekanan terhadap diri sendiri.
Saya sedang ingin berjalan tanpa kembali melihat jurang. Menginginkan milik orang lain, sama saja menyatakan diri ingin berlari kembali ke jurang. Lagian, dia hanya menganggapku sebagai Luan. Hazel tidak akan mungkin menyukai gadis kotor sepertiku.
“Berdarah” berdengus kesal karena terjatuh.
Saya hanya ingin menghindari kehadiran Hazel. Berusaha berlari jauh dari hadapannya. Apa saya harus pindah tempat kerja saja?
“Lukamu cukup parah” suara Hazel yang entah dari mana.
“Bagaimana dia bisa tahu?” bernada kesal seketika.
Dia berusaha membantuku untuk berdiri. “Lukamu cukup serius” Hazel mebawaku masuk ke mobil miliknya.
“Kita mau kemana?” terkejut...
“Ke rumah sakit” Hazel.
Dia hanya diam sepanjang jalan tanpa berkata-kata. “Ga perlu khawatir” ucapan sang dokter setelah membersihkan luka serta membalutnya.
“Kau belum pernah membawa gadis manapun kemari selain Luan” ujar sang dokter tersadar sesuatu.
“Apa kalian berteman?”
“Kami sahabat sejak kecil, hingga sekarang” ucapan dokter cakep di depanku.
“Hubungan kami lebih dari yang kau kira” ungkapnya lagi.
“Bukan urusanmu” kalimat Hazel sangat dingin.
“Nama anda?”
“Dokter Aras” balas dokter tersebut.
“Terima kasih” berujar sebelum kami keluar...
“Wajahmu terlihat cantik dengan sepasang mata Luan di sana” ungkap dokter Aras seketika hingga membuat langkahku terhenti.
“Dokter mengenal Luan?”
“Lebih dari yang kau kira” senyum dokter Aras.
Hubungan antara dokter Aras dan Luan? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi? Kenapa suasana jadi tegang begini?
“Ayo pulang!” Hazel menarik tanganku keluar meninggalkan sang dokter.
“Dia memegang tanganku” suara hati bergema di dalam sana.
“Tunggu di sini!” ungkap Hazel.
Saya duduk seorang diri sambil menunggu Hazel menebus obat di apotek. Pandanganku tiba-tiba saja teralih kembali terhadap sosok dokter Aras bersama seorang gadis remaja. “Sepertinya gadis remaja terlihat sedih” bergumam pelan.
Dokter Aras berjalan ke arahku setelah kepergian gadis remaja tadi. Ternyata dia tahu kalau saya sedang memperhatikan mereka. “Belum pulang?” sapa dokter Aras.
“Menunggu Hazel” balasku.
“Siapa dia?” pertanyaanku tiba-tiba ingin tahu.
“Pasien” dokter Aras.
“Wajahnya terlihat sedih” ungkapku.
“Kehidupan membuatnya berjalan di tempat menakutkan sama sepertimu” dokter Aras.
Dokter Aras seolah banyak tahu tentangku. “Kenapa?” rasa penasaran.
“Kehidupannya hambar tanpa arah berujung jurang mematikan” dokter Aras.
“Sepertinya dokter mengenalku lebih dari yang kukira”...
“Sepertinya” dokter Aras.
8. Ribuan puzzle menari di tengah hujan deras...
Maksud ucapan dokter Aras? Seolah dia menyadari seperti apa hidup Rae Avery. Tidak pernah kusangka, dunia Luan membuatku berada di tengah 2 pria dengan nilai di atas rata-rata.
“Dia bernama Hope, gadis remaja tanpa arah” dokter Aras.
“Dia kenapa?”
“Sejak usia 10 tahun ayahnya meninggal, sehingga sang ibu harus banting tulang bekerja keras” dokter Aras.
Dokter Aras bercerita kalau gadis remaja itu kehilangan figur ayah sejak kecil. Sang ibu berpesan agar Hope harus belajar dengan giat biar bisa menjadi orang sukses suatu hari kelak. Dia berusaha belajar dengan giat, hanya saja harapannya runtuh seketika. Sang ibu meninggal karena sebuah penyakit. Ibunya bekerja banting tulang berjualan di pasar demi dirinya.
“Hope diperhadapkan 2 pilihan antara makan untuk bertahan hidup atau mati kelaparan” dokter Aras.
Kehilangan arah di usia yang masih terlalu remaja. Di akhir cerita, Hope tidak lagi bersekolah. Menjadi yatim piatu, putus sekolah, kesepian, miskin, dan masih banyak lagi permainan hidup membungkus. Salah memilih teman berujung fatal terhadap masa depannya sendiri.
Temannya menyarankan dia menjadi pengguna aktif salah satu aplikasi. Apa yang salah dengan aplikasi tadi? Aplikasi tersebut dikenal sebagai pusat dunia pelacur untuk menjajahkan tubuh mereka. Lantas? Antara makan untuk bertahan hidup atau mati kelaparan karena tidak memiliki uang?
“Apa yang terjadi selanjutnya?” rasa penasaranku...
“Dia di diagnosa HIV sehingga semakin menghancurkan masa depannya” dokter Aras.
“Apa dokter sedang menjadi hakim?”
“Menurutmu?” dokter Aras.
“Entahlah” kalimatku.
“Saya tidak akan menjadi hakim buatnya, hanya saja semua terasa menyesakkan dengan pilihan tadi” dokter Aras.
“Apa pun masalahmu, gunakan dua kakimu untuk berlutut di hadapan Tuhan dan jangan berjalan di tempat salah” dokter Aras.
“Apa masa depannya memang tidak memiliki jalan?”
“Dia masih bisa mengejar mimpinya seperti orang normal lainnya, tidak ada kata terlambat selagi dua kaki ingin mencoba kembali berjalan” dokter Aras.
“Apa yang anda katakan terhadap masa depannya?”
“Hope hanya perlu memulai kehidupan, apa pun keadaan di depan. Bersekolah, bekerja, menikmati hidup, mengejar masa depan, mengejar mimpi asalkan dua kaki tidak menyerah dengan keadaan” dokter Aras.
“Pada akhirnya, dia akan menjadi bahan tertawaan sekaligus terkucilkan oleh masyarakat” ujarku.
“Setidaknya dia harus berjuang untuk bertahan, hingga suatu ketika dirinya membungkam semua mulut mereka yang berperan sebagai pembuly” dokter Aras.
“Dia hanya perlu menjalani rutinitas pengobatan saja sambil mengejar sebuah bintang yang mungkin secara manusia mustahil, tetapi dengan imannya maka semua itu diberikan oleh sang pencipta” dokter Aras.
Sosok dokter Aras seolah seperti sahabat buat pasiennya sendiri. Tidak menjadi hakim dengan melemparkan bahasa kenapa terhadap pasien di depannya. “Apa saya bisa mengejar masa depan juga?” kalimatku seketika.
“Luan memberi dua bola matanya buatmu, karena percaya tentang masa depanmu kelak” tiba-tiba saja dokter Aras memeluk hangat tubuhku.
Pertama kalinya, seorang pria tampan mendekap kuat tubuhku tanpa rasa jijiik. “Saya jauh lebih kotor dari Hope” ujarku.
“Pemabuk, penjudi, selalu ke diskotik, terkadang menjadi simpanan tua-tua keladi” kalimatku seketika.
“Rae terdengar lucu menyebut bahasa tua-tua keladi” dokter Aras tertawa.
“Apa saya juga memiliki penyakit seperti Hope?” berusaha lepas dari pelukan dokter Aras.
“Jangan khawatir, Rae tidak memiliki penyakit menular” dokter Aras.
“Dari mana dokter tahu?” ujarku terkejut.
“Apa kau lupa kalau tubuhmu pernah mendapat perawatan di rumah sakit ini karena kecelakaan dengan kata lain pemeriksaan darah juga sudah dilakukan” dokter Aras.
“Tetap saja sosok sepertiku terlihat kotor tanpa nilai sama sekali”...
“Hidupmu akan selalu berharga seperti apa pun dirimu di masa lalu ataukah yang sekarang” tangan dokter Aras menepuk-nepuk bahuku.
“Ayo pulang!” tiba-tiba saja Hazel menarik tanganku.
Hazel terus memegang kuat pergelangan tanganku. Kami berjalan keluar dari rumah sakit. Kenapa suasananya terasa canggung begini? “Apa saya bisa mengejar mimpi?” tiba-tiba saja bibir mulutku melemparkan pertanyaan terhadap Hazel ketika kami sudah berada di mobil.
“Pertanyaan bodoh” Hazel.
“Bodoh?”
“Kejar mimpimu dan jangan melempar pertanyaan kembali!” ucapan Hazel sambil terus melihat ke arah jalan.
“Sekalipun masa laluku kotor?” berajar sedikit ragu...
“Bahasa kotor itu hanya intimidasi, lawan dan kejar mimpimu!” Hazel.
“Kau hanya tidak tahu seperti apa kotornya hidup Rae Avery” berdengus kesal.
“Saya tidak ingin tahu tentang bahasa kotor tadi, yang saya ingin tahu adalah caramu berjalan” Hazel.
Di balik sikap dingin Hazel terdapat sebuah kehangatan. Tuhan, jangan sampai saya mengingini milik orang lain. Saya benar-benar menyukai dirinya.
Apa yang salah dengan kosakata tadi? Entahlah. Merenung dalam kamar membayangkan tentang dua kaki ingin belajar mengejar masa depan sama seperti orang lain. Saya tidak membiarkan Hazel mengetahui alamat rumahku yang sebenarnya sehingga berbohong...
“Sebenarnya apa yang terjadi antara dunia Hazel dan Luan?” bergumam...
Diary...
Seorang Luan sedang berjalan kembali menyusuri lorong kecil. Ribuan puzzle menari di tengah hujan deras, tetapi saya ingin belajar berjalan untuk menjadi seorang pemenang. Tubuhku berjuang menahan rasa sakit ketika melahirkan bayi kecilku.
“Bayi anda laki-laki dan sangat sehat” kalimat seorang bidan rumah sakit yang membantu persalinan...
“Mama akan selalu bersama denganmu” memegang tangan mungilnya.
“Namamu Hiasber” tersenyum memeluk tubuh mungilnya.
“Artinya Hidupmu akan selalu berharga” berkata-kata kembali.
Seorang Luan sedang berjuang manjadi ibu terbaik buatnya. Dia tidak bersalah atas semua yang sudah terjadi. Memberinya cinta tanpa batas membuat hidupku merasa jauh lebih baik.
“Anak mama harus cepat besar” bermain dengannya.
“Apa kau tidak ingin melanjutkan sekolahmu?” ucapan wanita tua terhadapku.
Tubuhku diam membisu seketika. Apa saya bisa? Bagaimana pandangan orang banyak tentangku nantinya? Pertanyaan yang memang sulit untuk di jawab...
“Luan dapat kembali bersekoplah sambil menjadi ibu terbaik buat Hia” wanita tua.
“Memang bisa?”
“Siapa bilang tidak bisa?” wanita tua mendekap kuat tubuhku kembali.
Saya ingin menjadi seorang pengacara suatu hari kelak. Apa dua kaki dapat berjalan mengejar? Rasanya terlalu mustahil...
“Luan harus mengejar mimpinya” ucapan wanita tua terhadapku.
Pada akhirnya, kami membuka toko kue tanpa harus menyewa gedung. Usia Hia juga sudah memasuki tahun ketiga. “Kejar sekolahmu!” kalimat wanita tua tanpa rasa bosan.
Apa yang terjadi selanjutnya? Saya mencoba mendaftar pada salah satu kampus terbaik di kota ini dan dinyatakan lulus. Saya kembali ke bangku sekolah menengah setelah Hia berusia setahun. Merawat Hia, bekerja sebagai pembuat kue, kembali bersekolah merupakan sesuatu hal paling mustahil. Tuhan membuat Luan dapat melewati kosakata tadi.
Menjadi ibu tunggal memang tidak mudah, hanya saja seperti ada kekuatan yang entah dari mana membuatku dapat berjalan. “Hia, jangan nangis” mencium kening jagoanku.
Saya ingin berkata, Tuhan tetap baik ketika dua kaki berada di suatu padang gurun paling menakutkan. Mengejar sekolah dengan masa lalu tergelap memang tidak mudah, akan tetapi sepertinya saya ingin mencoba. “Luan pasti bisa” memberi semangat terhadap diri.
“Maaf, membuat baju anda kotor” meminta maaf terhadap seseorang ketika Hia tidak sengaja menabrak seseorang.
“Luan” dia mengenali identitasku.
“Maaf anda siapa?” masih tidak mengenali dirinya.
“Apa kau tidak ingat kalau saya selalu ke rumahmu bermain petak umpet? Kalimatnya.
“Saya tidak ingat sama sekali” mencoba mengingat kembali.
“Mama” Hia menarik tanganku.
“Kau sudah punya anak?” terlihat kaget dengan usiaku, tetapi sudah menjadi ibu.
“Seperti yang anda lihat” balasku tersenyum kecut.
“Maaf saya harus pergi” segera mengejar Hia.
Saya benar-benar tidak mengenali dirinya. Cowok ganteng dengan senyum manisnya. Lupakan!...
“Maaf, saya mau pesan banana cake” suara tidak asing...
“Anda” ujarku terkejut.
“Ternyata Luan bekerja di toko kue” kalimatnya tersenyum ramah.
Saya benar-benar tidak mengenali dirinya. Hal terbodoh adalah dia selalu berjalan ke toko kue untuk membeli beberapa cake ataukah kue-kue tradisional. Kenapa saya salah tingkah tiap bertemu dengannya?
“Lupakan!” berdengus kesal.
“Ayah Hia kemana?” ujarnya.
Saya terdiam seketika. Kenapa juga pertanyaan bodoh seperti tadi dilontarkan? Apa yang salah? Saya ingin melupakan masa lalu dan tidak mengingatnya kembali.
Apa Luan sedang berada di alur menjadi seorang pembenci? Hia lahir dari hasil pemerkosaan ayah tiri. Sampai detik sekarang, saya tidak pernah ingin tahu kehidupan mama dan suaminya. Hidup jauh dari kehidupan mereka membuatku tenang.
Rasanya sulit menerima kehadiran Hia, hanya saja sesuatu membuatku bertahan hingga detik sekarang. Hiasber selalu berharga apa pun keadaannya. Bukan kemauannya ingin dilahirkan seperti ini, membuatku sadar tentang sesuatu. Bagiku, Hia tetap harta terbaik dari Tuhan.
“Toko sedikit lagi tutup” ujarku berusaha mengalihkan perhatian.
“Maaf” dia kemudian berjalan pergi.
“Lagian, saya juga tidak mengenali dirinya” bernada kesal seketika.
Pikiranku kosong seketika memikirkan pertanyaan pria tadi. Kenapa juga, dia harus datang tiap harinya ke toko. Saya benar-benar merasa kalau tidak pernah bertemu dengannya seumur hidup.
“Luan” tiba-tiba saja seseorang berusaha mendorong tubuhku.
“Hampir saja” ujarnya.
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berjalan ke arahku. Kenapa dia menyelamatkan hidupku? Saya tidak ada niat bunuh diri, hanya saja tidak menyadari kecepatan mobil tadi ketika berjalan.
“Dari mana kau tahu namaku?” berdengus kesal.
“Apa kau tidak ingat saya?” pertanyaannya.
“Siapa?”
“Saya benar-benar tidak mengenalimu” kalimatku lagi.
“Tapi saya mengenalmu dengan sangat baik” ungkapnya.
“Pernyataan bodoh” kalimatku terlihat kesal.
Luan...
Apa ini awal pertemuan antara Luan dan Hazel? Kehidupan Luan dengan semua permasalahan dalam dirinya. Di balik luka masa lalu, dia memiliki sebuah kekuatan yang tidak mungkin bisa dimiliki oleh siapapun. “Sepertinya saya juga ingin kembali bersekolah seperti dirinya” bergumam pelan dalam kamar seorang diri.
9. Kekuatan seorang ibu...
Saya mencoba mendaftar ke salah satu kampus dari kota ini. Saya memiliki sebuah mimpi sama seperti Luan. Masa lalu bukan penghalang untuk mengejar apa yang diingini hati.
Saya tidak ingin hidup seperti ini terus. Beruntung saja beberapa perusahaan mau menerimaku bekerja tanpa memakai ijasah sarjana karena kemampuan sales marketing dalam diriku. Tiap orang memiliki masa lalu, begitupun sebaliknya denganku.
Saya ingin menjadi seorang dosen pengajar suatu ketika. Apa yang salah dengan mimpiku? Berusaha membagi waktu antara bekerja dan kuliah sebagai rutinitas hidup.
“Kalau Luan bisa, artinya saya juga bisa” memberi semangat terhadap diri sendiri.
“Buatmu!” seperti biasa Hazel berjalan ke arahku dengan segelas cokelat hangat.
“Saya bukan Luan” berdengus kesal.
Kenapa saya meluapkan emosional terhadapnya? Berjalan pergi meninggalkan Hazel tanpa berbalik. Saya mulai menyukai apa pun dalam dirinya. Hazel hanya menganggapku sebagai Luan karena dua bola mata dalam diriku. Tidak ingin berharap lebih terhadap sosok Hazel. Bagaimanapun, dia milik orang lain...
Ternyata pertemuan antara Luan dan Hazel memiliki cerita sendiri di dalamnya. Rasa penasaran terhadap hubungan di antara mereka? Apa Luan memutus hubungan sepihak karena penyakitnya? Jangan-jangan Luan memaksa Hazel bertunangan dengan wanita lain?
Diary...
Saya ingin menari tanpa pernah berbalik kembali ke tempat menakutkan. Seorang anak kecil sedang belajar merayap dan mendaki sebuah gunung tinggi. Apa bisa? Rasanya terlalu mustahil untuk dilakukan. Entah kenapa, sebuah kekuatan berjalan masuk merasuki diri hingga sesuatu terjadi begitu saja...
“Apa mama sayang Hia?” pertanyaan Hia sebelum tidur.
“Tentu saja” ujarku.
“Sebesar apa?” Hia.
“Lebih dari yang Hia pikir” kalimatku mendekap kuat tubuh mungilnya.
“Terima kasih Tuhan, karena menjadikan Hia anak takut Tuhan, pintar, ganteng, sehat, dan lucu. Amin” bahasa doa seorang ibu tiap harinya.
“Hia sayang mama” Hia memeluk kuat tubuhku tiap malamnya sebelum kami tertidur lelap.
“Hidupmu akan selalu berharga” suara hati berbisik menatap ke arah jagoan kecilku.
Ternyata menjadi ibu tidak seburuk pemikiranku selama ini. Setidaknya Hia menjadi penghibur. Permainan hidup membuatku kehilangan arah di masa lalu, hanya saja dua kakiku ingin belajar berjalan di sudut persimpangan. “Kekuatan seorang ibu akan membuatmu berjalan tegak” ujarku membelai rambut Hia di dalam tidur lelapnya.
Saya tidak ingin menjadi seperti mama hingga menyatakan kehancuran terhadap anak sendiri. Tuhan, hancurkan segala kutuk keturunan dari mama atau papa dalam diriku, sehingga dua kakiku dapat menjalani peran sebagai seorang ibu. Tuhan, maaf atas perbuatanku yang selalu saja menolak kehidiran Hiasber di awal kehamilan. Hamil hasil pemerkosaan rasanya menyesakkan hingga membuatku terjebak oleh sebuah alur menakutkan.
Mimpi itu seolah membuka dua bola mataku tentang tangisan seorang anak. Saya tidak ingin menjadi ibu terkejam seperti yang dilakukan oleh mama. Boundless love seorang ibu akan menyatu kuat dalam diri Luan...
“Luan” seperti biasa pria itu kembali berjalan ke arahku sambil tersenyum.
“Saya benar-benar tidak mengenalimu” berteriak ke arahnya seketika.
Dia berkata-kata kalau kami selalu bertemu, tetapi saya tidak mengingat apa pun di masa lalu. “Apa dia papa Hia yang hilang” tiba-tiba saja jagoan kecil berada di belakang kami tidak jauh dari toko kue.
Dia terdiam seolah tidak memberi respon histeris terhadap pertanyaan Hia. “Pria ini bukan papa Hia yang hilang” berusaha menjelaskan sesuatu terhadap jagoan kecil.
Hia berjalan lemas tanpa semangat masuk ke dalam toko kue tanpa berkata-kata lagi. Ribuan puzzle mempermainkan hidup jagoan kecilku. “Kenapa kau belum pergi?” masih menatap kesal ke arahnya.
“Saya tidak ingin pergi” ujarnya.
“Saya benar-benar tidak mengenali dirimu, ngerti?”
“Tapi saya mengenal Luan” ujarnya.
Dia selalu berjalan ke arahku tanpa rasa bosan sama sekali. Membelikan Hia mainan, ice cream, pakaian, dan masih banyak lagi. Kenapa dia melakukan semua itu?
Saya menarik tangannya ke suatu tempat jauh dari keberadaan Hia karena tidak tahan dengan sikapnya. “Kenapa kau selalu berkata, kalau saya mengenal Luan” berteriak pada bibir pantai tanpa penghuni.
“Karena memang saya mengenal Luan” uajrnya.
“Tapi, kenapa harus mendekati Hia hingga membuatnya salah paham” kalimatku.
“Karena saya menyukai Luan, dan ingin menjadi ayah Hia” pernyataan yang membuatku terkejut seketika.
Selama ini, saya tidak pernah ingin menjalin hubungan terhadap siapapun. Kemungkinan karena rasa takut sekaligus trauma di masa lalu. Apa dia sudah gila?
Berusaha bersikap tenang mendengar pernyataan darinya. Saya ingin menjelaskan masa lalu seorang Luan seperti apa, hanya saja mulutku seolah tertutup rapat. “Semua itu tidak mungkin terjadi, pergilah!” ujarku dengan tegas.
Apa dia menyerah? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Dia selalu berjalan ke arahku tanpa ada kata menyerah. Dasar bodoh...
“Apa kau tahu masa laluku seperti apa?” kalimatku terhadapnya.
Dia terdiam tanpa berkata-kata. “Kau pasti akan merasa jijik setelah mendengarnya” melempar pernyataan kembali.
“Saya tahu semua tentang Luan” kalimatnya.
Saya diam seketika mendengar pernyataan darinya. “Wanita tua yang sedang bersama denganmu” ujarnya terdiam.
“Siapa?”
“Ibu angkatku” kalimatnya.
“Saya selalu melihatmu berjalan seperti manusia bodoh, hanya saja dua kakiku tidak dapat berjalan ke arahmu” sebuah rahasia...
Ternyata dia menyuruh ibunya mendekap tubuhku. Membawaku masuk dalam rumahnya tanpa sadar. “Kenapa kau tidak di rumah?” pertanyaanku.
“Saya mendapat beasiswa buat kuliah di luar negeri. Kenyataannya, saya dan ibu merahasiakan semuanya darimu” berusaha menjelaskan sesuatu.
“Dimana orang tua kandungmu? Kenapa ibu angkat?”
“Orang tuaku meninggal sejak kecil, hingga ibu mengambilku sebagai anaknya” sebuah ucapan kejujuran.
“Kenapa?”
“Saya dan kakakmu menjadi sahabat sejak kecil, bahkan kami selalu bermain bersama” ungkapnya.
“Lantas?”
“Makan gratis, mendapat baju bagus, bermain bersama kakakmu membuatku merasa memiliki keluarga” sekali lagi menjelaskan sesuatu.
Pantas saja saya tidak ingat, pada saat itu usiaku masih terlalu kecil. Saya hampir lupa kalau seorang Luan ternyata memiliki kakak. Hal terburuknya lagi adalah kami dipisahkan oleh sebuah perceraian orang tua.
“Kau sudah tahu saya kotor?”
“Lupakan masa lalumu, saya hanya mau lihat Luan di masa sekarang” segera mendekap tubuhku.
“Apa karena hutang budi terhadap kakakku?”
“Bukan, karena saya memang menyukai Luan dan bukan karena hutang budi” ujarnya.
“Saya bisa menjadi ayah terbaik buat Hia” kalimatnya kembali.
Apa saya bermimpi? Saya butuh waktu untuk percaya tentang ucapannya. Hal terbodoh lagi adalah dia tidak pernah menyerah terhadapku. Luan dengan trauma masa lalu sedang di bawah ke suatu tempat untuk mengerti objek cinta tanpa batas.
Luan...
Ternyata kisah cinta seorang Luan seperti ini yah? Apa pria itu Hazel? Hal terbodohnya lagi adalah selalu saja sosok Hazel menganggapku sebagai Luan. Saya menyukai Luan dengam alur ceritanya di sudut persimpangan, hanya saja hidupku tidak ingin berperan sebagai pengganti karena dua bola mata miliknya.
“Kekuatan seorang ibu?” bergumam pelan dalam kamar.
Apa saya juga bisa menjadi seorang ibu terbaik kelak? Menjadi pertanyaan, pria mana ingin berjalan ke arahku dengan masa lalu kotor? Terlebih dunia Rae Avery hanya bercerita tantang kepribadian keras, kurang kasih sayang, penderita insomnia...
Saya pernah memiliki seorang teman dengan alur cerita kacau di dalamnya. Kami hanya sekedar teman berjudi saja tiap ketemu dan tidak lebih. Lantas, hubungannya?
Dia berasal dari keluarga broken home yang dirawat oleh pamannya. Melalui perpanjangan tangan pamannya hingga dia sukses menjadi seorang idola alias model. Lantas, apa yang salah?
Kurang kasih sayang menjadikan hidupnya tanpa arah sama sepertiku. Singkat cerita, kehidupannya selalu bertemu dengan segala jenis jurang di dunia modeling. Menjalin hubungan dengan beberapa lawan jenis, hingga suatu ketika dia merasa sangat nyaman ketika berada di samping seorang wanita.
Entah bagaimana cerita sampai satu sama lain tidak saling terbuka tentang karakter masing-masing. Pada akhirnya, mereka berdua menikah dan dikaruniai beberapa anak. Lantas permasalahannya?
Sang istri memiliki karakter sangat keras tiap berhadapan dengan dirinya. Dia berasal dari salah satu suku yang mana kepribadiannya menyatakan bahasa sekaligus watak keras. Coba bayangkan, suku dengan kepribadian keras dikombinasikan bersama bahasa broken home tanpa kasih sayang? Situasinya akan menjadi seperti apa?
Sang istri kalau diperhatikan berasal dari suku yang bahasa kepribadiannya lembut, tetapi sepertinya tidak berlaku untuknya. Singkat cerita, selalu ada pertengkaran tiap saat. Di lain tempat lagi adalah paman yang selalu sensitif sekaligus karakter hancur, keras, tidak karuan menyatu menjadi satu.
Temanku ini berada di tengah-tengah antara sang istri dan paman. Si’istri akan lebih berteriak memaki atau menyerang melalui fisik ketika bertengkar. Karena ingin mencari ketenangan, entah bagaimana sehingga terjalin hubungan dengan seseorang yang juga memiliki masalah rumah tangga.
Hal lebih gila lagi adalah sang paman selalu menusuk dari belakang karena rasa tidak suka terhadap sang istri. Terjadilah perceraian di akhir cerita. Masalahnya ada dimana?
Permasalahannya adalah dia mencari pasangan karena merasa nyaman untuk sesaat tanpa memikirkan ke depan. Memilih bercerai merupakan solusi terburuk dari keputusan dalam dirinya. Bagi kamu dengan latar belakang broken home, jangan langsung membuat keputusan untuk menikah karena merasa nyaman!
Sekali lagi, Kalau memiliki karakter keras terlebih ketika menjalani hidup sebagai broken home, jangan langsung mengambil tindakan untuk menikah karena merasa nyaman. Pilihlah karakter pasangan yang memang mengerti dan mau menerima karakter keras dalam diri atau kekurangan sendiri. Kalau pribadi sudah berada di kategori keras jangan memaksakan diri menikahi kepribadian keras pula. Batu dan batu ketemu pada akhirnya akan saling menyakiti hingga membuat keretakan satu sama lain. Carilah pasangan dengan kepribadian air hingga dapat menghancurkan kata batu di dalam dirimu, tanpa merusak dirinya. “Lagian pamannya juga terlalu gila, sepertinya gangguan mental tingkat parah dibanding hidupku” membayangkan permasalahan bekas temanku tadi.
“Di tempat lain, istrinya juga 2x lipat gangguan mental pula” menggeleng-geleng kepala.
“Semua akan hancur pada akhirnya”...
Belum terlambat kalau mereka menyadari kesalahan satu sama lain. Permasalahan menjadi anak broken home memang menakutkan, bahkan mempengaruhi situasi rumah tangga kelak. Apa ini yang dikatakan hidup?
“Lagi melamun” suara seseorang.
“Saya bukan Luan” berkata-kata seketika.
“Siapa juga menganggapmu Luan” senyum dokter Aras menyapa diriku.
“Kenapa dokter disini?”
“Justru saya balik bertanya, kenapa Rae selalu duduk termenung seperti manusia bodoh di halte seorang diri?” dokter Aras.
“Saya hanya tidak bisa tidur saja sebelum duduk termenung seperti ini” kalimatku.
“Apa kau tidak takut orang jahat lewat?” dokter Aras.
“Menjadi penderita insomnia jauh lebih menakutkan” ungkapku.
“Luan sama sepertimu” dokter Aras.
“Dokter tahu hidup Luan?”
“Entahlah” dokter Aras.
10. A Reason...
Apa dokter Aras kakak Luan? Pantas saja, bahasanya berbeda dari Hazel. Tuhan, kalau boleh jujur, saya benar-benar menyukai Hazel.
“Segelas susu cokelat hangat jauh lebih baik, dibanding obat tidur” dokter Aras memberiku segelas susu cokelat hangat.
“Dokter seperti dirinya memberiku segelas susu cokelat hangat”...
“Maksudmu Hazel?” dokter Aras.
“Menurut dokter siapa lagi” balasku.
“Dia selalu menganggapku Luan” kalimatku kembali.
“Sepertinya Hazel tidak menganggapmu sebagai Luan” dokter Aras.
“Entahlah” merasa ragu mendengar pernyataan dokter Aras.
“Hazel selalu merasa bersalah terhadap Luan” dokter Aras.
“Hubungan mereka sebenarnya seperti apa?”
“Antara Hazel dan Luan?” dokter Aras.
“Siapa lagi?” balasku.
“Kenapa Hazel harus bertunangan dengan wanita lain?” keningku mengkerut.
“Kau akan tahu setelah membaca seluruh isi tulisan Luan” dokter Aras.
“Jadi dokter Aras tahu soal buku pemberian Luan buatku?”
“Lebih dari yang kau pikir” dokter Aras.
“Apa dokter kakak Luan?”
“Baca buku milik Luan seluruhnya!” tertawa keras seketika.
“Kau akan mengerti hubungan antara mereka berdua, dan bagaimana dunia Hazel di sana” dokter Aras.
“Jangan-jangan dokter memang sengaja menitipkan buku milik Luan?”
“Menurutmu?” dokter Aras.
“Sepertinya saya mulai menyukai sosok Rae Avery” dokter Aras tersenyum.
“Pernyataan bodoh” ujarku.
Dokter Aras berada di sampingku bersama kesunyian malam. Apa yang terjadi? Kenapa semua seolah menjadi teka-teki misterius di depan mata.
Saya sendiri sedang berjuang melawan anxiety dan insomnia dalam diri. Tuhan, bantu saya untuk bisa lepas dari segala jenis obat tidur. Rutinitas terbaru seorang Rae adalah menjadi mahasiswa di salah satu kampus.
Apa mereka akan menerima kehadiranku? “Kenalkan namaku Shana” seorang teman kampusku menyapa diriku.
“Ternyata bukan hanya saya mahasiswa sedikit tua di sini” Shana.
“Apa saya terlihat tua?” terkejut seketika.
“Bukan, maksudku lain” Shana.
“Apa kau melihat wanita itu? Kan wajahnya ibu-ibu pakai banget” Shana.
“Maaf” kalimatku tertunduk.
“Wajahmu masih muda gitu, kenapa jadi tersinggung?” Shana.
“Jangan-jangan usiamu sudah?” Shana.
“Usiaku 24 tahun, ketuaan kalau dipikir-pikir lagi” kalimatku.
“Saya saja kepala tiga baru masuk semester satu” Shana.
“What? Wajahmu tidak terlihat tua, justru wajahku terlihat lebih tua darimu” ucapanku.
“Apa kau sudah menikah?”
“Suami baru 1, sedang anak juga baru 1” Shana.
“Artinya mau tambah suami lagi?”
“Menurutmu?” tawa Shana meledak.
“Entahlah” balasku.
“Siapa namamu?” Shana.
“Rae Avery, panggil saja Ra atau Rae” jawaban buatnya.
Sejak perkenalan, kami berdua mulai akrab satu sama lain. Sepertinya Tuhan tahu tentang hidupku. Masa lalu bersama ribuan penolakan membuatku menutup diri sekaligus takut terhadap tatapan penghakiman semua orang. Shana selalu mengajak saya ke rumahnya tanpa pertanyaan untuk mengorek hidupku di belakang.
“Pemberitaan media sosial zaman sekarang memang selalu menghanyutkan” komentar Shana menanggapi tontonan di depan layar tv miliknya.
Shana histeris melihat tontonan media sosial yang selalu menampilkan kekayaan milliarder di usia yang masih muda. Tidak ada yang salah masalah menjadi milliarder di usia muda, kalau dipikir-pikir lagi. Lantas masalahnya dimana?
Banyak orang terpancing menjadi milliarder muda. Semua tidak salah dan tergantung versi masing-masing. Hanya saja, ada hal yang memang terlihat mengajarkan untuk memaksakan ataukah menekan generasi muda harus mellliarder dengan usia yang masih wah wah wah...
Kesalahannya dimana? Generasi muda zaman sekarang lebih mudah untuk depresi, gangguan mental, dan mengambil jalan pintas di luar dugaan. Menjadi milliarder usia muda sesuatu objek luar biasa, bahkan patut diacungi jempol. Hanya saja, jangan terkesan seolah memamerkan hingga menekan harus menjadi milliarder bagi generasi muda lainnya.
“Kalau ada yang berkata, wah makanya negara ini orang-orangnya miskin terus tidak berkembang karena memiliki mindset ingin miskin terus, dan memang seperti itulah hidupku” Shana histeris seketika.
“Jangan menjadi bodoh terhadap pernyataan tadi kalau masih ingin waras maksimal” Shana.
Hati-hati terhadap tontonan ataukah edukasi banyak podcast di dunia media sosial. Tidak menjadi masalah memiliki ambisi, tetapi jangan sampai terjebak dari kosakata tadi. Yang dikhawatirkan adalah banyak generasi muda menghalalkan segala cara untuk menjadi milliarder di usia muda hanya karena validasi bahkan dengan alasan apa pun.
Di tempat lain, bisa saja beberapa dari mereka merasa tidak berharga karena hanya memiliki status paling terbawah sehingga melakukan hal-hal yang tidak di inginkan. Depresi, bunuh diri, gangguan mental, pemakai, pengedar obat terlarang, dan banyaknya objek menakutkan lainnya. Semua memiliki versinya masing-masing untuk mengambil bintang di atas sana. Jauh lebih baik mendapat segala sesuatunya melalui sebuah proses. Kenapa bisa? Karena kau akan mengerti tentang defenisi kehidupan bersama irama seni di dalamnya. Hidupmu hanya perlu bekerja keras, tidak menyerah dengan keadaan, mental baja, melalui proses, dan tidak terpengaruh terhadap media sosial yang mengajarkan mendapat uang harus secepat mungkin di usia muda. Kalaupun prosesmu lama, jalani saja terus, justru yang seperti itulah akan membuatmu menjadi makin terbentuk berbeda dari mereka di sekitarmu.
“Semua mempunyai waktu bersama versinya masing-masing” Shana.
“Saya juga tidak menyukai kehidupan orang tua yang selalu menjadikan anaknya mesin ATM” Shana.
“Kenapa pembicaraan kita menjadi histeris gini?” sedikit menatap Shana.
“Saya kan Cuma ingin meluapkan sisi emosional semata” Shana.
“Jadi, harus histeris?”
“Seperti itulah” Shana.
“Saya memiliki anak usia pra remaja” Shana.
“What?” kalimatku hampir tidak percaya.
“Memang kenapa?” Shana.
“Tidak ada masalah, lanjutkan!” ujarku.
“Mengajarkan hidupnya tentang defenisi menghargai sebuah nilai bukan karena besar atau kecilnya” Shana.
“Tiap ke sekolah, dia akan membawa kue khas tradisional apa saja dalam sebuah box untuk di jual sebelum jam pelajaran dimulai atau jam istirahat” Shana.
“Lantas?”
“Keuntungan hasil penjualan memang tidak seberapa, tetapi saya ingin dia belajar mengelola keuntungan tadi” Shana.
“Mengelola?”
“Mengeluarkan hak Tuhan, berbagi di tempat tersembunyi dengan hasil keringatnya sendiri, dan menabung untuk masa depan ataukah sesuatu yang diinginkan sehingga dia mengerti arti sebuah nilai” Shana.
“Hubungan antara orang tua memanfaatkan anak?”
“Hubungannya, jangan menjadi iblis bagi anakmu sendiri dan merusak masa kecil sekaligus masa depannya hanya karena uang” Shana.
Ada banyak orang tua memanfaatkan anaknya sendiri sebagai sumber mata pencaharian. Tidak pernah berpikir tentang perasaan sang anak seperti apa. Bipolar, insomnia, gangguan mental lainnya, terjebak, jurang, tersesat, dan masih banyak hal lain menjadi dampak dari sebab akibat orang tua memanfaatkan anak menjadi mesin ATM berjalan. Lebih kacau lagi adalah sang anak disebut sebagai pemberontak yang kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan orang banyak.
“Mengajari anak tentang defenisi hidup jauh berbeda dengan memanfaatkan sebagai ATM berjalan yang membayar segala kebutuhan keluarga besar kecil abcdefg” Shana.
Point orang tua memakai anak sebagai sumber uang tanpa memikirkan perasaan anaknya sendiri. Membuat sang anak kehilangan moment terbaik, masa kecil, kebahagiaan keluarga. Menjadi dilema tersendiri, dimana banyak anak kekurangan kasih sayang karena kesalahan dari orang tuanya sendiri sekalipun terlihat utuh, terlebih jika sudah terjadi perceraian menakutkan.
“Ada satu lagi pernyataan di sebuah podcast di dunia media sosial membuatku sedikit gimana-gimana gitu” Shana.
“Tentang?”
“Saya ingin tahu pendapatmu tentang sesuatu” Shana.
“Tentang?”
“Seorang istri tidak harus lebih pintar dari suami” Shana.
“Maksudnya?”
“Ada seorang anak broken home membuat pernyataan gila” Shana.
“Pernyataan gila seperti apa?”
“Saya tidak ingin menikah, kalaupun saya menikah harus dengan gadis bodoh” Shana.
“Kenapa bisa?”
“Karena menurut pemikirannya, pintar dan pintar bertemu menjadi pasangan hanya akan berselisih tiap harinya yang berujung perceraian” Shana.
“Menurutmu?” Shana.
Pertanyaan bodoh, sedang saya sendiri tidak mengerti dunia semacam ini. “Ayo jawab!” Shana.
“Sebenarnya sih, tidak ada yang salah pasangan dengan persamaan IQ tinggi kalau dipikir-pikir lagi” ujarku.
“Itu dia masalahnya” Shana.
Permasalahan tokoh tersebut adalah korban perceraian. Dia berada di situasi trauma terhadap sepasang suami istri yang sama-sama memiliki tingkat kejeniusan tinggi. Kedua orang tuanya tidak mau mengalah setiap melemparkan pernyataan perselisihan oleh karena sebab akibat sebuah objek.
Ada luka menakutkan di dalam menjadikan dunianya terlihat menyeramkan. Sebenarnya kalau diselidiki, bukan masalah IQ, melainkan lebih ke arah karakter masing-masing dari dua pribadi ini. Kenapa bisa? Satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah. Batu dipertemukan batu, pada akhirnya akan saling menghancurkan sekaligus menciptakan luka cukup besar dari kedua belah pihak.
Sekali lagi, bagi kalian dengan karakter keras, jangan mencari pasangan yang sama dengan kepribadianmu. Ini bukan tentang IQ, melainkan lebih pada permasalahan kepribadian. Ada orang terlihat tenang bersama bahasa lembut, tetapi jauh di dasar terdapat karakter sangat keras yang tidak terlihat ketika diselidiki.
“Kalau kepribadianmu batu, artinya cari pasangan dengan kepribadian air atau kapas” Shana.
“Apa ada yang ingin kau sampaikan terhadap tokoh tadi?”
“Pekerjaanmu berhubungan dengan nyawa manusia, artinya minta Tuhan menyembuhkan dan memulihkan luka hatimu di dalam secara perlahan” Shana.
“Tidak ada orang tua sempurna di dunia ini, jadikan sebagai pelajaran hidup saja. Lupakan dan jangan jadikan konten yang sebenarnya semakin menciptakan sayatan di dalam ruang itu!” Shana.
“Kalau dipikir-pikir lagi, tokoh itu menikah ma gadis bodoh, gimana cerita ya?”
“Saya pastikan kalau tiap pertemuan atau kegiatan apalah gitu, istrinya selalu terlihat kebingungan sendiri alias lambat loading 7 keliling alias heng heng heng” Shana.
“Kan situ malu sendiri, darah makin naiklah kalau ceritanya sudah begini” Terlebih pekerjaanmu selalu berhubungan dengan orang-orang cukup berintelek di banyak pertemuan, kan jadi memalukan kalau begitu.
11. Tuhan, balut lukaku di ruang tersembunyi...
Kehidupan seorang broken home memang membutuhkan waktu untuk melupakan sesuatu yang membuatnya terluka. Selama ini, saya selalu merasa kalau luka dalam diriku jauh lebih besar dibanding luka manapun. Buku harian Luan dan percakapan dengan Shana membuka dua bola mataku. Ada begitu anak dengan versi lukanya masing-masing.
“Dunia terasa menyedihkan” menarik nafas dalam.
Tuhan, balut lukaku di ruang teraembunyi. Saya ingin belajar memperbaiki diri, dan tidak lagi berpikir kalau hidupku selalu yang paling menderita di antara semua orang. Tuhan, apa saya bisa menjadi pendekap bagi banyak anak tanpa kasih sayang di luar sana kelak? “Sepertinya, seorang Rae Avery harus belajar tentang perbaikan diri lebih dahulu sebelum berjalan ke arah mereka dengan peran sebagai anak broken home” bergumam di dalam kamar.
Apa Luan memiliki visi yang sama denganku? Beberapa hari belakangan, saya sedang disibukkan dengan rutinitas perkuliahan hingga membuatku tidak menyentuh buku milik Luan.
“Kau akan mengerti hubungan antara mereka berdua, dan bagaimana dunia Hazel di sana” ucapan dokter Aras sepertinya terus bergema di telingaku.
Bagaimana kabar Hazel sekarang? Wajahnya tidak lagi berjalan ke arahku beberapa hari belakangan. Kenapa bisa? Saya sedang belajar untuk tidak lagi duduk seperti manusia bodoh di halte menikmati kesunyian malam. Mungkin, karena jadwal mata kuliahku padat...
Diary...
Sudut persimpangan sedang memainkan perannya dengan cukup baik. Alunan musik permainan hidup terlalu pandai menari di tengah musik kecapi. Daun kering itu tertawa keras di tengah permainan musim. Ribuan pertanyaan selalu saja mengudara ketika ribuan puzzle mendekap begitu saja...
“Luan” suara pria itu tanpa rasa bosan terus saja berjalan ke arahku.
Dia tidak pernah lelah mencari perhatian dari manusia sepertiku. Saya baru sadar, di balik semua hal ternyata ada dirinya dengan sejuta cerita. Apa Tuhan memang sengaja mengirim dirinya?
Senyum Hia selalu lebar tiap berada di dekatnya. Saya mulai menyukai sesuatu dalam dirinya? Gadis kotor sepertiku, apa bisa berjalan sambil tersenyum ke arah pria berkualitas seperti dia?
“Luan pantas mendapatkan yang terbaik” wanita tua mendekap kuat tubuhku, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Hia ingin memiliki daddy” ucapan Hia terlihat serius.
Dia sukses merebut dunia Hia. Luan, lupakan masa lalu! Apa yang terjadi selanjutnya?
“Saya ingin menjadi bagian dari Luan dan Hia” kalimatnya menatap serius ke arahku.
“Masa laluku gelap” kalimatku.
“Saya tidak ingin melihat masa lalu Luan” ujarnya.
Dia mendekap kuat tubuhku memberi kehangatan. Selanjutnya? Di akhir cerita, dia melamarku tanpa basa-basi. Selalu berada di sampingku dan berjuang agar saya tidak lagi berjalan ke masa lalu.
Pada akhirnya, Kami berdua menjadi sepasang suami istri. Saya tetap melanjutkan kuliahku sambil menjadi ibu rumah tangga. Hia selalu merasa nyaman di sampingnya.
“Daddy” teriak Hia tersenyum lebar.
“Jangan nakal selama daddy berangkat kerja” ucapan ayah terbaik.
“Selalu menjadi ayah berbeda” suara hati berdesir.
“Sea” mendekap putri kami yang lahir setahun setelah menikah.
Kebahagiaanku lengkap setelah kehadiran Sea di tengah kami. “Terima kasih memberiku sepasang anak” ujarnya seolah Hia merupakan salah satu harta terbaik buatnya.
“Hia dan Sea akan selalu menjadi harta terbaik daddy” selalu memeluk hangat sang jagoan dan gadis kecilnya.
Luan...
Luan dan ceritanya. Kenapa saya tidak pernah melihat Hia dan Sea? Apa dunia Hazel menutup rapat hidup mereka berdua? Apa karena dua kurcaci kecilnya membutuhkan peran ibu hingga menjalin hubungan dengan wanita lain setelah kepergian Luan?
“Tuhan tahu yang terbaik buatku” tidak sengaja membaca salah satu tulisan dalam buku Luan.
Kehilangan wanita terbaik tentu menyakitkan. Apa cerita Luan ingin mengatakan, kalau gadis kotor sepertiku juga dapat berjalan ke arah pria berkualitas? Tuhan, apa saya bisa memiliki pasangan seperti Luan?
“Saya menyukai milik orang lain” menarik nafas panjang.
Apa segitu berartinya Luan bagi seorang Hazel? Permainan hidup membuat alur cerita selalu saja terjebak di sudut persimpangan. Hai jiwa, apa dirimu akan tetap diam membisu tanpa luapan emosional sama sekali?
“Hazel” tersadar sesuatu...
“Ada apa dengannya?” tidak sengaja mendengar dialog percakapannya bersama seorang pria paruh baya.
“Sepertinya sangat serius” ujarku.
“Jangan sekali-sekali menyakiti Hava, ngerti kamu?” pria tersebut terlihat sangat marah terhadap Hazel.
Dia membiarkan tubuhnya terkena beberapa pukulan. “Ayah, hentikan!” wanita cantik berusaha menghentikan kegeraman sang ayah.
“Hazel hanya lagi pusing saja, tidak benar-benar serius ingin memutus hubungan dengan Hava” kalimat wanita cantik sambil menangis.
Apa Hazel ingin membatalkan pertunangannya? Pukulan demi pukulan tetap di lempar ke bagian tubuhnya hingga membuat Hazel jatuh ke tanah seketika. “Hava, ayo pulang!” kegeraman sang ayah.
“Hazel butuh Hava” ucapan wanita cantik terlihat histeris.
“Kenapa anak ayah harus menangis buat laki-laki bodoh seperti dirinya” sang ayah.
“Dia tidak pernah menyimpan perasaan buatmu, buka mata Hava” sang ayah berteriak histeris.
“Jangan buta karena cinta sepihak” kembali sang ayah berkata-kata sambil menarik kuat tangan wanita cantik.
Hazel terbaring kaku di jalan seorang diri. Apa dia tidak bisa melupakan Luan? Saya juga menyukai dirinya.
Dua kaki mencoba berjalan ke arahnya. “Dasar bodoh” berdengus kesal menatap Hazel.
Dia hanya diam seribu bahasa tanpa berkata-kata. “Rumahmu dimana?” pertanyaan buatnya setelah berhasil membawanya ke dalam taxi.
“Sepertinya kita harus ke rumah sakit” tersadar kalau luka di seluruh tubuh Hazel sangat serius.
“Jangan” Hazel.
“Kenapa?”
“Saya tidak mau Aras melihatku dalam posisi seperti sekarang” Hazel.
“Apa kau takut?”
“Sepertinya” Hazel.
“Alamat rumahmu” kalimatku.
“Untuk?” Hazel.
“Membawamu pulang” balasku.
Dia memberiku sebuah kartu berisi alamat tempat tinggalnya. Dia tinggal di sebuah apartement. “Kenapa begitu banyak gambar desain di sini?” pertanyaanku setelah mengamati tiap ruang.
“Menurutmu?” Hazel.
“Entahlah, saya tidak bisa menjawab” balasku.
“Karena hobi dan pekerjaan” Hazel.
“Oh”...
Saya berusaha membersihkan dan mengobati seluruh luka di tubuhnya. Kenapa saya tidak melihat dua kurcaci maksudku Hia dan Sea? Saya penasaran, seperti apa wajah kedua anak Luan.
Dia belum bisa lepas dari masa lalu. Hal terbodoh adalah mengambil keputusan bertunangan? Pada hal Luan belum lama ini meninggal?
“Semua cewek juga pasti menggelepak-gelepak di depan Hazel, termasuk diriku” tertawa sinis di dalam sana.
“Ada apa dengan raut wajahmu?” Hazel.
“Tidak ada” kalimatku.
“Sepertinya kau harus ke rumah sakit” melihat luka di sekujur tubuhnya.
“Jangan” Hazel berusaha mencegahku.
“Apa kau takut?”
“Saya tidak mau membebani Aras dengan tingkah bodohku” Aras.
“Kenapa?”
“Dia jauh lebih menderita dibanding diriku” Hazel.
“Kalian kan memang sahabat?”
“Saya tidak mau menambah beban pikirannya hanya karena kelakuan konyolku” Hazel.
“Pernyataan bodoh” tertawa sinis menatap ke arahnya.
“Apa kau memutus hubungan sepihak?” pertanyaanku terdengar serius.
“Memutus hubungan?” Hazel.
“Maksudku memutus sepihak pertunangan antara dirimu dan Hava” kalimat buatnya.
“Hubungan yang dipaksakan, pada akhirnya akan saling menyakiti satu sama lain” Hazel.
“Kenapa bertunangan?”
“Karena terjebak sekaligus keterpaksaan” Hazel.
“Apa karena Luan?”
“Kenapa membahas Luan?” pertanyaan balik Hazel.
“Lupakan!” berusaha mengalihkan perhatian.
Dia menyimpan masalahnya seorang diri. Seperti ada sesuatu yang memang tidak bisa diluapkan hanya melalui ucapan semata. Terkadang, kepribadian seorang pria adalah tidak bercerita tentang ruang yang selalu saja tersembunyi di dalam, jauh berbeda dengan kaum Hawa.
“Apa kau ingin mendengar ceritaku?” ujarku.
“Cerita?” Hazel.
“Saya lahir dari rahim pelacur. Sampai detik sekarang, Rae tidak pernah tahu nama ayah sendiri” memulai bercerita.
“Hidup tanpa kasih sayang menjadikan hidupku hilang kendali, terus berada di jurang, penderita Anxiety, insomnia berat sampai obat tidurpun tidak mempan, penjudi, pemabuk, bahkan menjadi simpanan beberapa aki-aki tua” ujarku.
“Lantas?” Hazel.
“Saya ingin mati karena merasa tidak berharga, sampai akhirnya Luan berjalan ke arahku kemudian mendekap hangat tubuh kotor yang tidak memiliki harapan untuk hidup” berkata-kata.
“Pertama kalinya, saya belajar defenisi kehangatan di dalam dekapan” melanjutkan ucapanku.
Dia hanya diam mendengar ceritaku tanpa berkata-kata. Seolah tahu apa yang sedang kurasakan. Berusaha menahan rasa sakit karena pukulan ayah dari wanita cantik.
“Hidupmu berharga, bahkan lebih dari yang kau pikir” ucapan Hazel.
“Saya hanya ingin berbagi cerita, setidaknya” ujarku terpotong.
“Setidaknya?” Hazel.
“Sosok Hazel juga berbagi cerita denganku” ungkapku.
“Tidak ada yang perlu diceritakan” Hazel.
“Tidak masalah kalau kau tidak ingin cerita”...
“Rasa bersalah, penyesalan, ingin waktu berputar kembali, dan beberapa objek sepertinya berbaur menjadi satu di ruang menakutkan dalam diriku” Hazel.
“Apa karena Luan?”
“Luan tidak pernah menyalahkan atas semua yang terjadi” Hazel.
Dia benar-benar tidak bisa lepas dari dunia Luan. Kesalahan apa yang sudah diperbuat olehnya? Kenapa sosok Hazel terlihat hancur seperti sekarang?
“Ternyata kita sama-sama memiliki versi hidup menakutkan” ujarku.
12. Hai jiwa, kenapa kau selalu diam membisu?...
Permainan hidup menyatakan diri tidak lebih dari seoonggok kotoran hewan. Dialog percakapan antara saya dan Hazel beberapa hari lalu membuka dua bola mataku tentang sebuah objek. Dia menyimpan rasa bersalah cukup dalam terhadap Luan?
“Entah apa yang sudah diperbuat olehnya” bergumam pelan membayangkan raut wajah Hazel.
“Seperti biasa, sosok Rae duduk termenung di halte bis” suara tidak asing membuyarkan lamunanku.
“Apa insomnia Ra kumat lagi” senyum dokter Aras memberiku segelas cokelat hangat.
“Entahlah” tertawa sedikit sinis.
“Ra hanya perlu sedikit memberi diri kesempatan” dokter Aras.
“Apa saya boleh bertanya?”
“Terlihat serius” dokter Aras.
“Kesalahan seperti apa yang sudah dilakukan oleh seorang Hazel sampai membuatnya terus saja merasa bersalah terhadap Luan?”
“Apa yang kalian bicarakan?” dokter Aras.
“Hanya sepatah dua patah kata curahan hati kalau dipikir-pikir lagi” ujarku.
“Sepertinya Ra belum membaca seluruh isi buku milik Luan” dokter Aras.
“Beberapa hari belakangan, saya disibukkan kegiatan perkuliahan” balasku.
“Ternyata, Ra sedang dalam proses perjalanan terbaik rupanya” dokter Aras.
“Saya ingin seperti Luan mengejar mimpi dan belajar untuk tidak lagi melihat masa lalu” ungkapan perasaan.
“Apa kau menyukai Hazel?” dokter Aras.
Saya diam seketika mendengar pertanyaan yang memang sulit dijawab. “Raut wajahmu sudah menjelaskan semuanya” dokter Aras.
“Saya juga tahu diri, tidak mungkin bisa memetik bintang di atas sana” kalimatku.
“Ra akan mengerti dunia Hazel setelah membaca buku Luan” dokter Aras.
“Dia terlihat takut membuat dokter Aras khawatir tentang dirinya” berkata-kata kembali.
“Apa kau sadar sesuatu?” dokter Aras.
“Sejauh ini, Hazel tidak pernah ingin bercerita terhadap siapapun tentang ruang di hatinya selain dengan Ra” dokter Aras.
“Pernyataan dokter terlalu berlebihan” kalimatku.
“Ra dapat mencoba berjalan atau berlari mungkin untuk memetik bintang di atas sana” dokter Aras.
“Mustahil” ujarku.
“Kenapa?” dokter Aras.
“Nama Luan tidak akan digantikan oleh siapapun di hati seorang Hazel” pernyataan terhadapnya.
“Ra akan menemukan jawaban terbaik setelah membaca buku Luan” dokter Aras.
Apa maksud ucapan dokter Aras? Kenapa pernyataan darinya membuatku terus berpikir. Merenung tentang dunia Hazel seolah menyatakan satu objek misterius.
“Kenapa saya jadi tidak berani begini?” menatap buku milik Luan.
“Sepertinya saya cukup pengecut” tertawa dalam kamar.
Diary....
Cerita di lorong gelap tidak lagi terdengar seram. Sudut persimpangan seolah tersenyum lebar di tengah hujan deras. Serpihan hidup bergema seperti desau air bah.
“Luan, ayo makan!” ayah dari dua kurcaciku tersenyum cukup manis.
Dia selalu ada di tiap alur ceritaku saat ini. Tidak pernah lari ketika dua kaki terasa lelah oleh karena permainan hidup. “Luan hanya perlu tersenyum di tengah hujan deras” ucapannya tiap saat seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Sea anak daddy paling cantik” selalu menjadi ayah terbaik menurut versinya.
“Apa Hia bisa seperti daddy?” Hia.
“Tentu saja bisa” kalimatnya terus menemani keseharian Hia.
“Mama tidak salah memberi nama Hia” sang ayah mendekap kuat Hia sambil menepuk-nepuk bahunya sebelum tidur di malam hari.
“Hidup Hia akan selalu berharga apa pun keadaannya” kalimat sang ayah terhadap Hia seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan.
“Terima kasih sudah menjadi ayah terbaik buat Hia” berlari memeluk erat tubuhnya.
“Memang harus seperti itu” kalimatnya sambil tersenyum hangat.
Kehidupan keluarga kecilku memiliki versi ceritanya. Saya tidak lagi menangis ketakutan di sudut pintu belakang kamarku. Dia berjalan ke arahku menjadi sebuah pelita kecil.
“Apa saya boleh bertanya?” tiba-tiba saja dia memasang wajah serius.
“Tentang?”
“Apa Luan sudah melupakan kakak sendiri?” pertanyaannya.
Bagaimana keadaan kakakku sekarang? Kami dipisahkan karena perceraian orang tua. Hal lebih buruknya lagi adalah kakakku dikirim keluar negeri oleh papa. Apa dia masih mengingatku?
“Saya hampir lupa tentang kehadiran dirinya” ucapanku.
“Seandainya kakak Luan datang mencari, apa dua tanganmu akan terbuka lebar?” pertanyaan darinya.
Ingatan tentang kakakku masih tersimpan di sana, bagaimanapun saya berusaha menyangkal. Keadaan membuat kami terpisah. “Sepertinya dia sudah melupakan adiknya sendiri” pernyataanku seketika.
Luan...
Isi hati Luan mengungkapkan perasaannya. Lantas, cerita penyesalan Hazel berada dimana? Apa dia gagal mempertemukan Luan dan kakaknya? Bahkan, dia selalu menjadi pelita kecil bagi seorang Luan.
“Tuhan, perempuan kotor sepertiku ingin memetik bintang” berkata-kata.
“Memalukan!” menggeleng-geleng kepala.
“Lagian sosok Luan tidak mungkin tergantikan” merenung seorang diri.
“Wanita secantik Hava saja di tolak, bagaimana denganku”...
Biarlah seorang Rae Avery menjadi pengagum rahasia, tanpa harus berlari ke arahnya. Serpihan hidup menyatakan diri di satu objek tidak terduga. Saya ingin belajar berjalan menuju sebuah garis finis. Memulai kehidupan baru tanpa terikat mas lalu tergelap.
“Kenapa saya harus kembali melihat pemandangan kurang menyenangkan begini?” tersadar sesuatu...
Saya hanya ingin menikmati kesunyian malam seperti biasanya. Hanya saja, pemandangan kurang menyenangkan terpampang nyata di seberang jalan. Wanita cantik menangis histeris di depan Hazel?
“Saya benar-benar menyukaimu” tangis histeris Hava tersungkur di depan Hazel.
“Dia menjadi pengemis cinta” suara hati berdesir di dalam.
“Katakan kalau kau hanya bergurau saja, tidak serius dengan ucapanmu” tangis Hava makin histeris.
Hazel hanya diam membisu mendengar kata-kata wanita cantik di depannya. Dia memegang segelas cokelat hangat? Dasar bodoh...
“Apa kau menyukai wanita lain?” Hava.
“Ayo jawab!” mendorong tubuh Hazel hingga segelas cokelat hangat di tangannya terjatuh ke jalan aspal.
“Jawab!” Hava.
“Sejak awal, hubungan kita memang tidak pernah dilandasi cinta ataukah suka sama suka” Hazel duduk di pinggir jalan dengan kepala menunduk.
“Apa yang kau tak sukai dariku?” Hava.
“Wajah?” Hava.
“Saya akan berusaha terlihat cantik menurut versimu” Hava.
“Bukan” Hazel.
“Apa karena saya terlihat bodoh?” Hava.
“Saya akan berusaha terlihat cerdas menurut versi Hazel” Hava.
“Justru Hava kelewat cerdas” Hazel.
“Lantas apa?” Hava.
“Uang? Uangku banyak” teriak Hava.
“Bukan” Hazel.
“Saya seperti manusia bodoh” Hava.
“Banyak pria mengejar sosok Hava, tetapi kenapa pria yang kusukai ingin berlari jauh tanpa jejak?” Hava.
“Sekali lagi maaf” Hazel.
“Seperti apa dunia Hava tanpa Hazel” Hava tertawa di dalam tangisnya.
“Hava” suara bariton seorang pria terlihat geram di belakang mereka tiba-tiba.
“Kau selalu membuat Hava menangis” makian pria tadi.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah beberapa pukulan kembali bermuara ke tubuh Hazel. Apa Hava membiarkan Hazel dipukuli hingga babak belur? Tubuh Hava diam mematung melihat ayahnya memukul hingga tubuh Hazel terjatuh ke jalan aspal.
“Hentikan!” entah apa yang ada di pikiran Rae hingga berusaha berlari memeluk Hazel agar tidak lagi kesakitan...
“Rae” Hazel terkejut seketika.
“Apa karena dia kau memutus sepihak hubungan?” Hava.
Hazel diam membisu. “Ayo jawab!” Hava terlihat histeris.
“Kalau kau benar-benar menyukai Hazel, kau tidak akan membiarkan ayahmu memukulinya” menatap tajam Hava si’wanita cantik.
“Dasar pelacur” makian Hava.
“Hava” nada Hazel meninggi.
“Tidak masalah kau memaki pria sepertiku, tapi jangan melempar pernyataan buruk ke arahnya” Hazel.
“Dasar brengsek” Hava.
“Bajingan” sang ayah sekali lagi melempar beberapa pukulan ke tubuh Hazel.
“Hentikan” berusaha mendorong pria tersebut.
“Sudah cukup” geram melihat ayah dan anak menyerang Hazel.
“Apa kau pernah tahu dunia Hazel?” berteriak ke arah Hava.
“Menurutku, perasaanmu itu bukan cinta, hanya obsesi semata” memaki Hava.
“Dan Kau pria tua, setidaknya bijak melihat masalah yang terjadi terhadap anakmu” memasang badan tanpa rasa takut.
“Hava, ayo pulang!” sang ayah menarik kuat tangan anaknya.
Tubuhku jatuh tersungkur setelah kepergian mereka. Cinta yang dipaksakan? Kesunyian malam menjadi saksi bisu pergulatan seorang Hazel.
“Kau selalu seperti ini” ujarku terhadapnya.
“Membiarkan tubuhmu tercabik, hanya karena perasaan bersalah” kalimatku kembali.
Hazel diam membisu tanpa kata-kata. “Apa salahnya menghindari pukulan?” ujarku.
“Kalau pukulan tadi dapat membalut luka Hava, tidak masalah” Hazel berkata-kata.
“Apa yang kurang dari Hava?”
“Cantik, pintar, karir bagus, sempurna, lantas?”
“Entahlah” Hazel.
“Luan sudah meninggal” penekanan buatnya.
“Kau juga berhak bahagia” pernyataanku kembali.
“Dasar” Hazel tertawa keras.
“Kenapa tertawa?” berdengus kesal.
“Lupakan!” Hazel.
“Lukamu cukup parah, setidaknya ke rumah sakit” berusaha membantunya berjalan.
“Apa saya boleh bertanya?” Hazel.
“Tentang?”
13. Ruang Pemulihan...
Hazel diam beberapa saat tanpa berkata-kata lagi. “Tentang?” rasa penasaranku berlecamuk.
“Lupakan!” Hazel.
Awalnya dia menolak ke rumah sakit, hanya saja saya memaksa hingga mendorong kuat tubuhnya. Entah kekuatan dari membuatku melakukan hal seperti ini? “Terima kasih mengizinkan Luan memberiku dua bola matanya” suara hati berdesir di dalam.
“Menjadi pengagum rahasia?” berkata-kata dalam hati.
“Tidak menjadi masalah” bergumam pelan melihat dokter Aras membersihkan luka di seluruh tubuh Hazel.
“Kau selalu seperti ini” dokter Aras.
Seperti biasa Hazel diam membisu. “Untung saja tidak kenapa-kenapa” dokter Aras.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” dokter Aras menarik tanganku keluar ruangan tanpa sepengetahuan Hazel.
“Dia membiarkan ayah dari tunangannya memukul berulang kali” mencoba menjelaskan perkara.
“Saya sudah feeling” dokter Aras.
“Bukan kali ini saja”...
“Artinya? Kenapa tidak berterus terang denganku?” dokter Aras.
“Dia takut membuat dokter khawatir” balasku.
“Lagian saya dan dia memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat” dokter Aras.
“Dia bilang, dokter Aras sudah terlalu banyak menderita” ujarku.
“Apa saya boleh bertanya?”
“Silahkan!” dokter Aras.
“Wajah dokter selalu terlihat ceria tanpa masalah, lantas anda menderita dimana?”
“Lupakan ucapan Hazel!” dokter Aras.
“Kalian berdua membuatku bingung” kalimat terhadapnya.
“Apa Hazel melakukan sesuatu yang fatal sehingga ayah Hava geram?” dokter Aras.
“Katanya dokter sudah feeling, lantas kenapa balik bertanya?”
“Saya hanya ingin memastikan” dokter Aras.
“Hazel membatalkan pertunangan sepihak” balasku.
“Sejak dulu, memang Hava yang sibuk mengejar sekaligus mencintai seorang diri” dokter Aras.
“Cinta bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan” dokter Aras.
“Entahlah”...
“Sepertinya peluang Ra memetik bintang terbuka lebar” dokter Aras.
“Lupakan!” nada kesal terhadap dokter Aras.
“Jangan-jangan dokter cinta diam-diam ma Hava” mencurigai sesuatu.
“Kenapa pikiranmu kacau?” dokter Aras.
“Karena dokter terus menyuruhku memetik bintang yang sebenarnya terlalu mustahil, ngerti?” nada kesal berujung meninggalkan dirinya di taman rumah sakit.
Saya juga sadar diri sekalipun Hazel tidak lagi menjadi milik orang lain. Hal lebih kacau lagi adalah di hati Hazel hanya ada Luan seorang. Menjadi pengagum rahasia lebih dari cukup.
Diary...
Ruang pemulihan sepertinya mulai tersenyum manis ke arahku. Sayatan luka di masa lalu berangsur pergi tanpa sadar. Dia memberiku kehangatan keluarga. Hingga suatu ketika....
“Luan” teriakan darinya terlihat ketakutan.
Semua terasa gelap di sekitarku. Apa yang sedang terjadi dengan dunia Luan? Kenapa detak jantungku seolah berhenti.
“Luan, bangun!” saya bisa mendengar tangis histeris dari seseorang.
“Siapa?” terkejut ketika membuka mataku.
Pria tampan menangis histeris di sampingku. Kenapa saya terbaring di rumah sakit? Mata mereka semua bengkak, termasuk dirinya.
“Luan, maaf selalu membuatmu menangis ketakutan” sosok pria tadi terus saja menangis hingga membuatku tersadar sesuatu.
“Ka’Hazel” segera memeluk kuat tubuhnya.
Saya tidak pernah lupa dua bola mata milik kakakku. Berusaha menyangkal tentangnya di depan ayah dari kedua kurcaci kecilku, hanya saja ruang hati tidak pernah bisa berbohong. “Sekali lagi maaf” tangis histeris kakakku.
“Apa kakak tahu hidup Luan?” bulir-bulir kristal mengalir begitu saja.
Kami berdua hidup terpisah karena perpisahan orang tua. Saya pikir, ka’Hazel lupa tentang adiknya. “Anggap saja Luan tidak mendengar sesuatu” ingatan bagaimana ka’Hazel selalu menutup rapat telingaku memakai tangannya ketika papa dan mama bertengkar hebat.
Ka’Hazel dikirim keluar negeri oleh papa, sedang saya dibiarkan begitu saja karena masih terlalu kecil. Papa sudah merencanakan jauh-jauh hari tentang kemungkinan yang akan terjadi sehingga memaksanya melanjutkan studi keluar negeri. Saya harus mengakui kalau ka’Hazel memiliki IQ tinggi, di lain tempat papa tidak ingin sekolahnya terganggu.
Ka’Hazel baru saja masuk bangku sekolah kelas 10 saat itu. Perceraian papa dan mama membuat kami berpisah selamanya. “Andai saja, kakak membawamu pergi” ka’Hazel menyesali diri seolah menyadari sesuatu yang sudah terjadi denganku.
Dia terus saja berjaga di sampingku. Penyesalan terbesar darinya terbaca cukup jelas di wajahnya. “Daddy, kenapa ada orang asing di rumah?” pertanyaan Hia terhadap ayahnya.
“Bukan orang asing, melainkan uncle. Ngerti?” senyum ayah kedua kurcaciku.
“Kalian menikah tanpa memberitahu, maksud ucapanku adalah mencariku?” penekanan ka’Hazel.
“Kau sahabatku sejak kecil” penekanan ka’Hazel.
“Kau tahu, selama ini saya terus mencari Luan” ka’Hazel.
“Aras” penekanan ka’Hazel.
“Saya kehilangan kontakmu” ucapan ayah dua kurcaciku.
“Maaf” ucapannya tertunduk.
“Saya tidak pernah tahu bagaimana Luan diperlakukan buruk oleh pria brengsek itu” ka’Hazel.
“Kakak tahu semua?” terkejut...
“Menurut Luan?” ka’Hazel.
“Mama, kenapa uncle memarahi daddy?” Hia.
Saya tidak mau Hia mengalami trauma yang sama denganku hingga menyuruhnya ke kamar. Berusaha menenangkan pria di depanku. “Suamiku tidak salah” nada kesal memaki ka’Hazel.
“Luan pasang badan buat pria kacau seperti dirinya?” ka’Hazel.
“Suamiku seorang dokter jenius bukan pria kacau, ngerti?”
“Betul ucapan mama dari kedua anakku” kalimatnya.
“Lupakan!” ka’Hazel duduk berusaha menahan amarah.
Saya merasa kalau mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Dua bola mata berbicara terlalu kuat. Ka’Hazel memutuskan tinggal bersama dengan kami.
Ka’Hazel terus berjaga di sampingku seolah menutupi sesuatu hal. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ka’Hazel selalu membawaku ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
“Sampai kapan kalian menutupi semua dari Luan?” tidak sengaja mendengar pembicaraan antara wanita tua dan mereka berdua.
Pembicaraan mereka terlihat serius. “Luan sudah terlalu menderita, apa saya harus membuatnya menderita lagi” ka’Hazel.
“Tapi, Luan harus tahu penyakitnya” wanita tua.
“Jangan beritahu Luan” ayah dua kurcaci kecilku terlihat ketakutan.
Berusaha mencari hasil pemeriksaan rumah sakit yang disembunyikan kuat dariku. “Dasar bodoh” ujarku setelah membaca selembar kertas setelah mereka semua tertidur.
Luan tidak selemah itu. Berusaha terlihat kuat di hadapan mereka semua. “Saya ingin menikmati liburan bersama kakak” pernyataan Luan di pagi hari.
Kenapa saya berkata-kata seperti ini. Raut wajah Ka’ Hazel selalu merasa bersalah dengan semua yang sudah terjadi. Saya hanya ingin membuat dia memiliki memory tentangku dan membuang rasa bersalahnya.
“Apa saya boleh ikut” ayah 2 kurcaci kecilku masuk ke tengah pembicaraan kami.
“Hia dan Sea?”
“Ada saya, setidaknya nikmati liburan kalian” wanita tua maksudku mama terbaik tersenyum ke arah kami.
Lantas? Kami bertiga liburan kemana? Salah satu kota terbesar yang menyimpan banyak memori menjadi pusat perhatian seorang Luan. Setidaknya, dua kaki menikmati hidup sebelum semuanya menghilang.
Kami bertiga menyusuri pinggir kota besar seolah saya tidak akan lagi melihat hari esok. Berada di tengah pusat perbelanjaan, taman bermain, pasar malam, kebun binatang, restoran-rsstoran, makanan pinggir jalan menjadi petualangan terbaik. “Saya ingin memiliki foto sebanyak-banyaknya bersama kalian” berkata-kata sambil tersenyum.
Saya sadar kalau mereka berusaha menahan perasaan menakutkan di dalam sana. Membuktikan kalau Luan baik-baik saja sekalipun menjadi penderita kanker leukimia stadium akhir. Luan, nikmati hidupmu!
Hingga suatu ketika di tengah liburan kami, saya melihat seorang gadis duduk tanpa pengharapan di pinggir jalan kota. Dia sama sepertiku di masa lalu. Perasaan hambar, kosong, sesak, dan masih banyak lagi berbaur menjadi satu. Raut wajahnya terbaca cukup jelas, sekalipun dia tidak berbicara.
“Kakak” memegang tangan ka’ Hazel.
“Dia sama sepertiku di masa lalu” menunjuk gadis tersebut setelah berulang kali melihat dia duduk termenung di tengah kesunyian malam.
Ka’ Hazel dan ayah dua kurcaci kecilku terus berjaga di sampingku, hingga membiarkan saya kembali melewati jalan yang sama di tengah kesunyian malam untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. “Saya ingin memberinya segelas cokelat hangat” ujarku.
“Segelas cokelat hangat?” ka’Hazel.
“Dia pasti kesulitan tidur sama seperti diriku yang dulu” berkata-kata kembali.
“Biar saya saja yang beli” ka’Hazel segera berjalan pergi.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah ka’ Hazel tidak kunjung datang. Apa terjadi sesuatu? “Ayo kita cari kakakku!” menarik tangan pria terbaik di sampingku.
Dua bola mata tanpa sengaja melihat kakakku berteriak memaki seorang wanita sejam setelah pencaharian tidak jauh dari tempatnya berbelanja. “Apa kau tahu bagaimana Luan menderita?” teriakan ka’ Hazel.
“Luan menjadi korban pemerkosaan suami anda” penekanan ka’Hazel.
“Ibu seperti apa anda? Kenapa kami berdua harus lahir dari rahim wanita sepertimu?” tanpa terasa air mata kakakku mengalir begitu saja.
Saya bisa melihat rasa sesak di dalam dirinya menekan begitu kuat. “Luan selalu menangis ketakutan akibat ulahmu” ka’ Hazel.
“Tidak mungkin” ucapan mama.
“Masa depan adikku rusak karena ulah mamanya sendiri” ka’ Hazel.
“Dan sekarang Luan di diagnosa kanker leukimia stadium akhir akibat ulahmu juga” ka’ Hazel terus berkata-kata.
“Ka’ Hazel” berlari berusaha menghalangi dirinya melakukan sesuatu hal terhadap wanita di depannya.
“Luan” ucapan mama.
“Apa Luan mendengar sesuatu?” ka’ Hazel.
“Kakak, segelas susu cokelat hangat pesananku mana?” berusaha mengalihkan perhatian.
“Kenapa kau tidak membawa Luan pergi?” ka’ Hazel memaki sahabatnya sendiri.
“Luan, maafin mama” wanita itu jatuh tersungkur di depanku.
Diam membisu menatap pemandangan kacau. Kenapa baru sekarang mama sadar? Sepertinya, saya butuh waktu untuk kembali memeluk mama. Mengambil segelas susu cokelat hangat dari tangan kakakku, kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka semua.
Apa yang ingin kulakukan? Lupakan! Entah kenapa, dia kakiku kembali berjalan ke tempat gadis itu duduk termenung. “Apa kau butuh dekapan?” melempar pertanyaan.
“Kenapa duduk disini seorang diri?” melempar pertanyaan kembali.
Dia tetap diam membisu dan bersikap cuek sama sekali. “Sepertinya kau memang butuh dekapan” kalimatku dengan tersenyum.
“Apa urusanmu?” nada kasar darinya
“Kau makin cantik kalau lagi kesal” berkata-kata kembali.
“Kau tidak sendirian” mendekap hangat dirinya. Seolah tahu apa yang sedang dirasakan olehnya. Tiba-tiba saja, ka’ Hazel berjalan ke tengah kami dan membawaku pergi dalam gendongannya.
Hal yang tidak pernah kusangka adalah berita pembunuhan menakutkan oleh seorang wanita terhadap suaminya sendiri. Mama membunuh suaminya ketika tertidur lelap di kamar. Puzzle-puzzle itu menyimpan ribuan misteri menakutkan...
Luan...
Selama ini pikiranku salah tentang dunia Hazel. Ternyata, Hazel dan dokter Aras selalu menemani Luan hanya untuk memastikan saya baik-baik saja? Dokter Aras suami terbaik Luan, sedang Hazel kakak terbaik?
“Dasar bodoh” merutuki diri sendiri.
Pria terbaik yang selalu ada buat Luan ternyata dokter Aras. “Wajahmu terlihat cantik dengan sepasang mata Luan di sana” pernyataan dokter Aras pertama kali kami bertemu.
“Pantas saja, Hazel berkata-kata seolah dokter Aras memendam penderitaan bersama rasa kehilangan jauh lebih besar” membayangkan raut wajah sang dokter.
Segelas susu cokelat hangat? Setidaknya, Luan memiliki kakak yang begitu peduli dengannya jauh berbeda denganku. “Terima kasih untuk semuanya” menatap batu nisan di depanku.
“Masih sempat-sempatnya berjalan ke arahku, padahal ruang di dalam jauh lebih menyesakkan” tertawa mengingat tulisan miliknya.
14. Tangan Tuhan sedang menulis alur ceritaku...
Hidup yang tidak pernah kupikirkan sama sekali berjalan hingga mendekap kuat tubuhku. Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu?
Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
Diam membisu dalam kamar menatap sebuah buku di depanku. Merenung tentang sosok Luan di lorong gelap tempatku duduk termenung. Menjadi pelita kecil dan memberi harapan di dalam ruang menakutkan itu.
Diary...
Saya tidak pernah menyangka mama menikam ratusan tusukan ke tubuh suaminya sendiri. Tuhan, apa saya akan pergi bersama luka di masa lalu? Rasanya terlalu sulit memberi maaf di sudut persimpangan itu.
“Tuhan, buang segala rasa sakit, marah, dendam di ruang tidak terlihat” jeritan hati ketika tersungkur di hadapanNYA.
“Tuhan, pulihkan ruang hatiku sekarang hingga saya dapat berjalan pergi ketika waktu dimana nafasku tidak lagi berhembus” tangisku pecah seketika.
Saya tahu kalau hidupku hanya menunggu waktu. Menjadi pembenci tidak akan menyelesaikan masalah, hanya saja ruang hati membutuhkan proses panjang untuk segera pulih. “Saya ingin menang terhadap ruang sesakku” gereja kecil tidak jauh dari hotel tempat kami menginap menjadi saksi bisu pergumulan terbesar dari Luan.
Menari di tengah ombak rasanya terlalu mustahil di lakukan. Seorang gadis kecil ingin belajar berjalan melewati lorong menakutkan. Hai jiwa, kenapa dirimu begitu rapuh dan selalu bersembunyi seolah tidak terjadi sesuatu apa pun?
“Kakak, apa kau tidak ingin bertemu mama?” melempar sebuah pertanyaan ketika kami berada di salah satu taman bermain.
“Tidak sama sekali” ka’ Hazel.
“Tapi, saya ingin” menatap ke arahnya.
“Kenapa?” ka’ Hazel.
“Saya ingin pergi tanpa luka sayatan di masa lalu” pernyataan seorang Luan.
“Luan” ayah dua kurcaci kecil segera mendekap tubuhku. Dia terlihat ketakutan. Saya tahu kalau dirinya menangis diam-diam di malam hari setelah tubuhku tertidur lelap.
“Saya sudah tahu semua, jauh-jauh hari sebelum kakak bertemu mama” ucapan tersebut membuat mereka berdua terkejut.
“Luan tidak akan mati” ayah anakku terus saja mendekap kuat tubuhku.
Pada akhirnya, ka’ Hazel menyetujui paksa keinginanku. Rasa marah, benci, geram terbaca cukup jelas di wajahnya. Ka’ Hazel butuh waktu terhadap ruang yang selalu saja terlihat menakutkan. “Tinggalkan kami bertiga!” berbisik ke telinga pria di sampingku.
Diam tanpa bahasa antara mama, ka’ Hazel, dan diriku. Satu sama lain menyimpan lukanya masing-masing di ruang menakutkan itu. “Kabar mama?” pertanyaan buat mama setengah jam setelah kami diam membisu satu sama lain.
“Apa Luan baik-baik saja?” tangis mama pecah penuh penyesalan.
“Mama sudah membunuh bajingan itu, setidaknya anak mama bisa tersenyum lagi” ucapan mama.
“Luan Cuma mau tahu kabar mama bukan yang lain” ungkapan perasaan seorang anak.
“Anak bodoh, masih memikirkan keadaan ibu terjahat” mama.
“Maafin mama sudah membuat Luan terluka” tangis histeris mama.
“Luan ingin dipeluk mama” ujarku.
“Apa bisa mama memeluk Luan?” mama.
“Tentu saja” berusaha tersenyum tanpa rasa benci sama sekali.
Mama mendekap kuat tubuhku bersama isak tangisnya. “Mama tidak menyesal mendekam di penjara kalau semua itu bisa membuat Luan tersenyum” kalimat seorang ibu.
“Sekali lagi maafin mama sudah menghancurkan masa depan Luan” ucapan mama tersedu-sedu.
“Kakak, apa kau tidak ingin memeluk mama dan adikmu?”
Saya bisa merasakan kehancuran seorang anak melihat sang ibu di tepi jalan tanpa arah. Sesuatu yang sulit diungkapkan, di akhir cerita, bergema oleh karena desiran gemuruh di lorong itu. Ribuan puzzle mempermainkan alur cerita di jalan setapak.
Ibu dan anak meluapkan perasaannya satu sama lain. “Sekali lagi, maafin mama” tangis sang ibu memohon maaf terhadap kedua anaknya.
Setidaknya, saya bisa pergi dengan senyum ketika waktu itu tiba. “Luan” suara tidak asing terdengar di telingaku.
“Papa” mengenali suara tersebut.
Apa ini mimpi? Kami berempat bertemu di penjara? Satu sama lain saling menyakiti menyatakan objek emosional hingga menciptakan keretakan. Kehilangan rumah membuatku tersesat. Andai saja, mereka berdua melawan ego masing-masing, tentu semua ini tidak akan terjadi. Papa sudah memiliki rumah kecilnya sendiri, tidak mungkin juga kami merusak begitu saja.
“Luan, maaf selalu membuatmu terluka” papa jatuh tersungkur menyesali semua yang sudah terjadi.
“Semua karena papa hingga mama Luan menjadi pembunuh” tangis papa pecah pada akhirnya.
Tidak ada orang tua yang sempurna di dunia, karena mereka semua memiliki sisi lebih dan kurang. Saya ingin belajar untuk tidak menjadi pembenci di sudut persimpangan itu. Di akhir cerita, saya kembali ke kota di mana dua kaki mengenal tentang defenisi harapan di dalam rasa sesak.
“Mama dari mana saja?” Hia berlari ke pelukanku seketika.
“Sea terus memanggil mama” Hia.
“Mama tidak kemana-mana” ujarku
“Mama lagi capek, jadi, Hia ga boleh ganggu mama. Ngerti?” sang ayah segera menarik tubuhnya, kemudian membawanya ke kamar.
“Tapi Hia mau peluk mama” Hia.
“Besok saja” sang ayah berusaha memberi pengertian.
Ribuan puzzle tertawa di tengah hujan deras sambil menari tanpa henti. Dua kaki ingin berlari menuju garis finish, hanya saja ruang sesak seolah menyatakan diri sebagai pemenang. Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Menjalani kemo rasanya menyakitkan, tetapi harus kulakukan. Memutuskan menjalani kemo setelah berlibur menjadi rutinitasku sekarang. “Luan tetap cantik” ayah dua kurcaciku berusaha teraenyum di depan.
“Tapi, kepalaku botak” berkata-kata sambil memandangi sebuah cermin.
“Kepalaku juga botak” terkejut melihat sesuatu yang sedang dilakukan olehnya.
“Hia juga botak” Hia tiba-tiba saja masuk ke kamar.
“Apa mama akan pergi?” Hia terlihat ketakutan seolah tahu penyakit dalam diriku.
“Kalau mama pergi, bagaimana dengan Hia dan Sea?” tangis Hia pecah seketika.
“Apa bisa mama membuat permohonan terhadap Hia?” mendekap kuat tubuh sang jagoan.
“Hia ga mau mama pergi” Hia.
“Hia ga boleh nangis, permintaan mama” permohonan seorang ibu.
Tuhan, dekap kuat tubuh jagoan kecilku bersama adiknya ketika waktu itu tiba di depan. “Hidupmu akan selalu berharga” jeritan hati seorang ibu memeluk kuat tubuh anaknya.
Saya ingin belajar untuk mengerti alur cerita yang sedang ditulis oleh Tuhan buatku. Permainan hidup bisa saja tertawa lebar, tetapi dua kaki akan berjuang menuju sebuah garis finish terbaik. Tuhan tetap baik apa pun keadaan di depan mata. Terima kasih Tuhan untuk semua yang sudah terjadi...
“Dokter, lukanya cukup parah” terdengar suara seorang dokter sedang menangani pasien gawat darurat akibat kecelakaan.
“Gadis itu” tersadar sesuatu hal.
“Apa yang sedang terjadi?” mencoba mencari tahu. Gadis itu menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berjalan ke arahnya. Dokter berkata kalau dia akan mengalami kebutaan setelah bangun sari komanya.
“Jangan mati, tetaplah hidup” suara hati bergema memandang tubuhnya dari luar ruangan.
“Luan” ka’ Hazel terlihat khawatir.
Keringat ka’Hazel mengucur di sekitar wajahnya. “Semua orang mencarimu” ka’ Hazel.
“Luan ingin membuat permohonan, apa bisa?”
“Jangan membuat permohonan aneh-aneh” ka’ Hazel.
“Kakak” ucapanku.
“Tidak bisa” ka’ Hazel dengan tegas menolak sebelum saya menjelaskan permohonanku.
“Saya ingin memberi dua bola mataku buatnya” menunjuk ruang di mana gadis itu terbaring.
“Luan akan tetap hidup” ka’ Hazel terlihat marah.
“Gadis itu sama seperti Luan di masa lalu” ucapan tersebut membuat kakakku tersadar sesuatu.
“Luan” teriak histeris ka’ Hazel di telingaku masih bergema. Semua menjadi gelap, bahkan suara ka’ Hazel tidak lagi terdengar olehku.
Tuhan, apa bisa saya memohon sesuatu untuk terakhir kalinya? Beri saya kesempatan sekali saja, memeluk dua kurcaci kecilku bersama ayahnya. Setidaknya, saya bisa mengucapkan salam perpisahan terhadap mereka. Saya ingin berkata-kata untuk terakhir kalinya terhadap kakakku, bukan salahnya hingga hidupku harus berjalan di tempat menakutkan. Tuhan, dengarkan doaku untuk terakhir kalinya...
“Kakak” dua bola mataku pada akhirnya terbuka.
“Luan, harus sembuh” ka’ Hazel.
“Bukan salah kakak atas semua yang sudah terjadi” pernyataanku seketika.
“Jangan menyesali keadaan!” kembali melempar sebuah pernyataan.
“Apa mama akan pergi?” Hia berlari ke pelukanku.
“Apa saya bisa mendekap kalian bertiga?” memegang tangan ayah dua kurcaciku. Dia berusaha terlihat kuat di hadapan orang banyak.
“Terima kasih sudah menjadi ayah terbaik buat Hia dan Sea” memeluk tubuhnya untuk terakhir kali.
“Mama, Terima kasih atas tiap dekapan hangat darimu ketika seorang Luan kehilangan harapan” menatap tubuh wanita tua yang sedang bersandar pada pintu...
Tuhan, sekali lagi dengar doaku, saya ingin menulis di buku diary milikku terakhir kalinya. Meluapkan semua ruang sesak di dalam sana. “Saya ingin sendirian di ruangan ini, apa bisa?” berkata-kata terhadap mereka.
“Tidak bisa” ka’ Hazel.
“Hazel” nada serak ayah anakku menarik tangan sahabatnya. Pada akhirnya, mereka semua berjalan keluar dari ruang tempatku berbaring. Mengambil buku, kemudian menulis kata demi kata tentang cerita hidup Luan.
Tuhan, maaf atas segala dosa yang sudah kulakukan. Terima kasih karena membuat dua kaki dapat menyentuh garis finish versi terbaikMU. Tuhan tetap baik atas hidup yang sudah kujalani.
Luan...
Butiran kristal mengalir cukup deras membasahi ruang sunyi di kamarku. “Tuhan tetap baik” berkata-kata setelah membaca buku milik Luan.
Saya tidak pernah menyangka, kalau dia memberiku harapan di ruang sesak tanpa kendali. Menangis semalam-malaman hingga dua bola mata milik Luan bengkak. Mencapai garis finish menurut versi terbaiknya? Terasa menyesakkan...
“Kenapa memakai kacamata hitam?” dokter Aras entah dari mana tiba-tiba berada di belakangku.
Saya ingin berjalan di taman bermain seorang diri. “Ra tidak kerja?” sapa dokter Aras.
“Meliburkan diri sendiri” menjawab pertanyaan.
“Di pecat dong” tawa dokter Aras.
“Bodoh amat, lagian saya mau cari tempat kerja baru” kalimatku.
“What?” dokter Aras.
“Kenapa anda menyembunyikan perasaan kehilangan, menderita, dan sakit karena di tinggal?”
“Maksud ucapan Ra?” dokter Aras.
“Saya pikir Hazel suami Luan, ternyata pria di depanku” tertawa kacau di depannya.
“Daddy” teriak seorang anak berlari memeluk dirinya.
“Apa dia jagoan kecil bernama Hia?”
“Kenapa tante di samping daddy tahu nama Hia?” pertanyaan jagoan kecil.
“Daddy juga tidak tahu” dokter Aras.
“Dasar daddy dan anak sama saja” sedikit menyindir.
“Sepertinya Sea lagi mencari kakak Hia” dokter Aras. Pernyataan tadi membuat sang jagoan berlari meninggalkan kami berdua. Luan memang beruntung memiliki pasangan semacam dirinya.
“Ra mau kemana?” dokter Aras tersadar sesuatu.
“Memulai petualangan baru seperti istri anda” dokter Aras.
“Apa kau ingin ditraktir segelas cokelat hangat?” dokter Aras.
“Lain kali saja” ujarku.
“Apa Ra masih memiliki keinginan memetik bintang setelah membaca buku Luan?” dokter Aras.
“Entahlah, tapi yang pasti, saya tidak ingin menyia-nyiakan hidupku seperti kemarin” berkata-kata...
“Dokter, terima kasih membiarkan Luan memberikan dua bola matanya buatku” menundukkan kepala seketika di depannya.
“Di balik sampul buku Luan ada sebuah surat ditulis manis buatmu” dokter Aras.
15. Ruang itu tidak lagi terlihat menakutkan...
Tubuhku mematung mendengar ucapannya. “Luan benar-benar menyukai dirimu, jadi, tetaplah hidup dan jangan terikat oleh kisah masa lalu!” dokter Aras.
“Sekali lagi terima kasih” tanpa sadar butiran kristal kembali bermain begitu saja di balik kacamata hitam milikku.
“Saya janji, tidak akan berjalan seperti orang bodoh di lorong menakutkan” berkata-kata kembali.
“Hazel akan keluar negeri hari ini, apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu sebelum terlambat?” dokter Aras.
“Bukan hanya Hazel sih” dokter Aras.
“Maksud anda?”
“Kami sekeluarga akan pindah” dokter Aras.
“Apa dokter marah atau...?”
“Sekedar mencari petualangan baru saja, sambil menikmati hidup” dokter Aras.
“Lantas?”
“Saya dan Hazel beda tempat. Pesawat Hazel jam 1 siang ini” dokter Aras.
“Kenapa dia tidak bilang?”
“Sepertinya dia tidak tahu nomormu, lagian Hazel memiliki kepribadian sedikit berbeda” dokter Aras.
“Apa kau sama sekali tidak memiliki niat memetik bintang?” dokter Aras.
“Pertanyaan bodoh” kalimatku.
“Ayah Hava menjebak Hazel melalui kerjasama. Di sisi lain, ayah Hazel memiliki hutang cukup banyak berujung acara pertunangan” dokter Aras.
“Bagaimana Hazel membayar hutang ayahnya kalau melakukan pembatalan pernikahan sepihak?”
“Hazel memiliki IQ cukup tinggi, lagian dia masih punya tabungan cukuplah sisanya pinjam” dokter Aras.
“Pinjam kemana?”
“Menurutmu kemana?” dokter Aras.
“Maksud anda ke dokter?”
“Lupakan! Pesawat berangkat jam 1 siang, apa Ra tidak ingin mengejar bintang, minimal sekali saja seumur hidup?” dokter Aras memberiku kunci motor miliknya.
“Sepeda motorku terparkir manis di parkiran” dokter Aras mendorong tubuhku.
Entah kenapa, dua kakiku berlari cepat begitu saja. Membawa motor milik dokter Aras dengan kecepatan tinggi. Mengejar bintang? Hal yang tidak pernah terpikirkan olehku...
“Apa saya terlambat” berusaha mencari keberadaan Hazel. Berlari memutari seluruh lantai bandara terdengar kacau.
Setidaknya, seorang Ra hanya ingin berterima kasih terhadapnya. Kenapa saya jadi gugup tidak karuan begini? Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 12 siang...
“Ra” tiba-tiba saja Hazel berdiri tepat di belakangku.
“Apa kau akan pergi?”
“Memang kenapa?” Hazsl.
“Lupakan!” kalimatku.
“Saya menerima kontrak kerja di luar negeri” Hazel.
“Selain itu?”
“Sekedar mengejar mimpi semata” Hazel.
“Jaga diri baik-baik, kejar mimpi yang ingin Ra wujudkan!” Hazel.
“Apa saya bisa memelukmu?” berkata-kata sedikit ragu.
“Kemarilah!” Hazel membuka lebar kedua tangannya. Berlari masuk ke dalam dekapannya membuat hidupku seolah membuang beberapa beban hidup.
“Apa saya bisa mengajukan sebuah permohonan?”
“Tentang?” Hazel.
“Apa saya bisa mengejar bintang, kelak, ketika kita bertemu kembali?”
“Mengejar bintang?” Hazel tidak mengerti maksud ucapanku.
“Katakan saja iya, bisa!” kalimatku.
“Iya bisa” tawa Hazel tidak mengerti kalimat tadi.
Dia berjalan pergi tanpa berbalik melihat ke arahku. “Jangan melirik gadis manapun di luar sana” berteriak keras setelah dia berada jauh di tangga lift bandara.
Apa dia mendengar pernyataanku tadi? Entahlah. Dia tidak lagi memberi respon, tetap berjalan pergi...
“Memalukan” merutuki diri sendiri sambil berjalan pergi meninggalkan bandara. Mengejar bintang? Entahlah...
Saya ingin memulai hidup tanpa ikatan masa lalu. Rasa penasaran tentang surat Luan buatku. “Saya menyukai dirimu, jadi, kuharap kau dapat berlari keluar meninggalkan lorong belenggu itu tanpa berbalik kembali” isi surat Luan buatku.
Luan meninggalkan sepenggal kalimat? Tetapi seolah memberiku kekuatan untuk berjalan dan memulai petualangan baru. Rae Avery, semangat...
7 TAHUN KEMUDIAN...
“Jelaskan makna kosakata di depan!” menunjuk salah satu mahasiswa dengan nada tegas.
Pada akhirnya, Rae Avery dapat berjalan menggapai sesuatu yang mustahil. Berperan sebagai salah satu dosen pengajar di sebuah kampus cukup besar menyatakan kemenangan atas hidup. Selain menjadi dosen, apa lagi yang sedang di jalani olehku?
“Shana, bagaimana hasilnya?” melempar sebuah pertanyaan.
“Sedikit lagi” Shana.
Berada di satu ruang dengan banyaknya pelatan abcde. Kami berdua sedang ingin mengembangkan sebuah alat. Sejak masih menjadi mahasiswa, sepertinya Tuhan memang sengaja mengirim manusia cerewet bernama Shana. Dunia kami hanya bercerita tentang petualangan menciptakan teknologi terbaru.
Sebuah kotak besar akan di tanam di bawah jalan aspal, depan rumah sakit, puskesmas, dan beberapa tempat sarana umum penting lainnya. Fungsinya? Seperti yang diketahui bersama, bahwa di beberapa provinsi terlebih bagian pedalaman selalu terjadi kekacauan dan pembunuhan tragis. Kata ingin merdeka alias membentuk negara sendiri berakibat fatal bagi banyak orang terlebih dunia nakes selalu menjadi korban.
Di dalam kotak besar tersebut terdapat empat tiang yang secara otomatis terlipat sendiri ataukah menjulang tinggi. Selain tiang tadi terdapat pula jaring ranjau yang langsung terhubung dengan empat tiang tadi, tabung gas air mata, alat pendeteksi, penangkap sinyal, dan kamera.
Sistem kerjanya bagaimana? Ketika sekelompok oknum melakukan aksi kejahatan dengan berbagai alasan, maka radar akan mendeteksi sendiri dan membunyikan sirena melalui aplikasi handphone dan markas petugas keamanan. Secara otomatis, petugas dapat langsung menghidupkan alat tersebut melalui markas ataukah aplikasi khusus yang dibuat terdapat dalam handphone ataukah jam tangan.
Setelah mesin hidup, maka empat tiang tersebut akan keluar dengan sendirinya dari kotak menuju ke atas dengan sanga cepat. Jaring yang terpasang akan langsung mengikat sekaligus membungkus kuat oknum ataklah massa yang lagi mengamuk. Gas air mata akan keluar dengan sendirinya melalui empat tiang tadi. Sebuah selang akan di sambungkan otomatis dari tabung oksigen dalam kotak menuju empat tiang. Terdapat beberapa lubang mengelilingi ujung paling atas masing-masing tiang. Penyemprotan gas air mata otomatis terjadi untuk mencegah banyak korban yang jatuh.
Alat penangkap sinyal harus dalam bentuk kecil dikarenakan masalah kerusakan yang disebabkan oleh oknum tersebut. Jadi, alat ini memang harus di pasang di tempat-tempat dengan kasus kerusuhan terbesar.
“Kalau di pikir-pikir lagi, mereka ini tidak mengenal dunia luar sehingga pola pikir ataukah ingin menanggapi sesuatu terjadi penyimpangan” Shana.
Ada banyak korban melayang begitu saja, dengan alasan ingin membentuk negara sendiri. Membuat sebuah daerah merdeka ataukah berdiri sendiri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Zaman dulu dan sekarang itu sudah sangat jauh berbeda.
“Lebih kacau lagi nakes selalu menjadi sasaran mematikan” menggeleng-geleng kepala.
“Kabar terburuknya lagi, gaji sudah paling kecil, pekerjaan berurusan dengan nyawa” Shana.
“Lantas, mati begitu saja hanya karena apalah itu” Shana.
“Kalau ada kasus penyakit apalah itu, selalu jadi kelinci percobaan” makin menggeleng-geleng kepala.
“Lebih parahnya lagi, pemerintah yang buat aturan baru terkait kesehatan, yang selalu jadi sasaran empuk masyarakat?” Shana.
“Pasti nakes” tertawa keras seketika.
“Bisakah gaji dan insentif nakes tidak diturunkan standar nilainya apa pun yang terjadi” Shana.
“Perasaan kita berdua bukan nakes, lantas kenapa bercerita kacau begini?”
“Sekedar perpanjangan lidah saja” Shana.
Hal lebih buruknya lagi adalah beberapa oknum memanfaatkan situasi, entah dari luar ataukah dalam negara sendiri. Hal seperti ini yang menjadi akar permasalahan terbesar. Pada dasarnya, mengubah sekaligus beradaptasi dengan mereka yang berada di pedalaman memang butuh proses dan adaptasi luar biasa.
Tiap daerah memang memiliki kepribadian berbeda-beda. Cara untuk menerima sebuah objek juga harus melalui sistem berbeda pula dan tidak bisa disamakan satu sama lainnya. Hal lebih gila lagi adalah negara ini masuk kategori negara korupsi paling besar.
Ada perasaan kecewa di hati mereka sehingga semakin memanasi situasi. Sebenarnya, negara ini merupakan negara paling strategis di antara semua negara. Pusat kekayaan terbesar dunia ada di negara ini, hanya saja permasalahan korupsi menjadi dilema terbesar pula sehingga menghancurkan segala sesuatu di dalamnya.
Ada satu lagi akar masalah yang cukup rumit kalau di pikir-pikir. Bercerita? Semua orang bisa saja salah paham. Padahal, objek tersebut dapat menjadi salah satu pemicu keretakan antara suku. Sudah banyak keluhan bergentayangan, hanya saja belum mencuat ke dunia media sosial.
Tentang apa? Pemilihan kepala negara yang selalu saja kandidatnya berasal dari satu suku terus dan tidak pernah berganti. Jangan marah atas ucapanku, karena saya hanya sebagai penyambung lidah. Saran saya, kalau bisa beri kesempatan suku lain, jangan situ-situ terus.
Untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, maka buat aturan. Maksudnya? Per 2 periode, dibuat aturan harus berasal dari pulau A berkoalisi dengan pulau C untuk seluruh kandidat. Mau menang atau kalah kan dari pulau tersebut yang mendapat kesempatan. Di periode berikutnya diputar lagi ke pulau lain dan seperti itu seterusnya.
Ini hanya sekedar saran, diterima syukur, tidak diterima juga syukur. Tidak ada masalah buatku. Jika ingin diselidiki lagi, negara ini selalu dan sedang menjadi incaran pihak luar, jadi, hati-hati. Jangan gila hanya karena sebuah kursi.
Terlebih di depan mata sedang terjadi permainan di luar sana. Ada banyak negara masuk dalam jebakan yang berujung pada kehancuran. Percaya atau tidak, ada waktunya, hanya ada satu pemimpin saja untuk seluruh negara. Beberapa penguasa merupakan tangan kanan organisasi ini. Mereka juga sedang mempermainkan kondisi melalui perekonomian, perbankan, keuangan, kesehatan, dan banyak lagi bidang lainnya di tiap negara. Jadi, saya harap pemimpin di negara kita tercinta berpikir bijak ketika menghadapi banyak hal.
Terkadang, saya merasa kasihan melihat menteri keuangan yang terbaru. Serba salah untuk bertindak dikarenakan permainan dari organisasi tadi, program apalah, korupsi, dan sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan oleh pejabat menteri keuangan dan pemimpin negara sebelumnya. Entahlah. Perasaanku berkata kalau ada sesuatu hal yang memang sudah dijalani, entah dalam keadaan tidak sadar ataukah memang sangat sadar oleh pejabat sebelumnya.
Berbicara tentang keuangan, pada dasarnya memang sangat sensitif. Organisasi di luar sana untuk kehidupan menakutkan suatu hari kelak merancang strategi khusus di masing-masing negara terkait kondisi keuangan dan perekonomian. Lebih kacaunya lagi adalah sistem mata uang negara selalu saja melemah. Itulah sebabnya, saya katakan hati-hati terhadap hutang yang sudah menumpuk...
Jika ada yang berkata, ini sekedar hoaks belaka, silakan! Satu hal yang pasti, kita suci orang Kristen tidak pernah berbohong. Nubuatan di dalamnya selalu terjadi.
“Sudah malam” Shana melihat jam.
“Ayo pulang!” Shana segera mengambil tasnya.
“Apa suami anda tidak marah?”
“Maksud ucapan anda?” Shana.
“Pulang larut begini” cibiranku.
“Dia manusia paling pengertian” Shana.
“Wow”...
16. Langkahku memainkan irama...
Saya tertawa keras mendengar pernyataan seorang Shana. “Bagaimana kalau kita makan dulu?” Shana.
“Suami tidak marah?”
“Paling, sedikit marah” Shana.
“Dasar kacau” mengumpat seketika.
Kehidupanku yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Rae Avery tidak lagi menjadi penderita anxiety. Tidak harus bergantung obat tidur tiap malamnya merupakan kado terbaik dari Tuhan.
Belajar mendekap kakak dan adikku, kemudian membawanya keluar dari lorong gelap merupakan sebuah kaaih karunia Tuhan buatku. Saya dan Zora kembali bertemu, dan memulai hubungan persahabatan seperti dulu. “Saya terus mencarimu” Zora menangis tersedu-sedu lima tahun lalu.
Zora sama sepertiku mencari jati diri, hingga terjebak di jurang terdalam dari sebuah alur. “Saya ingin belajar sepertimu” Zora.
Permainan, belenggu, merasa diri tidak berharga, kotor, kehilangan arah tidak lagi mendekap di sudut persimpangan itu. “Bagaimana kabar Hazel sekarang?” bertanya-tanya tiap malamnya.
“Mengejar bintang?” tertawa seketika.
“Memalukan” merutuki diri sendiri.
Hazel tidak memiliki kabar seolah ditelan bumi. Saya benar-benar menyukai dirinya di ruang tersembunyi. Apa dia sudah hidup bahagia bersama gadis lain? Kenapa juga, saya tidak memiliki keberanian memperjelas perasaanku tujuh tahun lalu?
“Ra mau kemana?” Shana berteriak ke arahku.
“Melepas stres” jawaban terhadapnya.
“Dasar manusia aneh” Shana.
“Ingat, jangan pernah sakit!” Shana berteriak histeris.
“Kenapa memang?”
“Kotak mesin perangkap kita berdua 3 hari lagi launching. Ngerti?” Shana.
“Kau terlihat serius masalah beginian, apa suami anda tidak marah?”
“Dia selalu menjadi pendukung” Shana.
“Anda benar-benar beruntung mendapat suami pengertian” ujarku.
“Kau sendiri bagaimana?” Shana.
“Maksudku, apa kau tidak memiliki seseorang sedikit istimewa atau gimana gitu?” Shana.
“Kenapa?” cetusku.
“Kau terus saja sibuk menjadi dosen, kemudian berada disini bersama denganku, lantas jalan ma siapa gitu ga pernah” Shana.
“Lupakan!”
“Kenapa bisa begitu?” Shana.
“Menurutmu, manusia seperti apa bisa mengejar bintang?”
“Maksud ucapanmu?” Shana.
“Maksudku, gimana yah” sedikit kikuk.
“Saya tidak mengerti” Shana.
“Mengejar cowok berkualitas, ganteng, tinggi, baik hati, tidak sombong, pintar, poloknya hidupnya tidak pernah menuju ke jurang”....
“Rae Avery si’ manusia tertutup ternyata menyukai seseorang selama ini” Shana.
“Memang kenapa? Ada yang salah?”
“Tidak ada yang salah, Cuma lucu saja” Shana.
“Lucunya dimana?”
“Bertanya lagi” Shana tertawa keras.
“Kenapa tertawa?”
“Secara, seorang Rae gitu loh” Shana.
“Pintar, ilmuwan, seorang dosen, berkharisma, dan masih banyak lagi hal menarik dalam diri Rae” Shana.
“Maksud ucapanmu?”
“Kenapa jadi minder masalah memetik bintang apalah itu?” Shana.
“Tapi, masa laluku gelap” ujarku.
“Manusia kacau pakai banget” Shana.
“Memang kenyataannya begitulah” balasku.
“Hanya pria bodoh yang menolak Rae Avery, hanya karena masa lalu” Shana.
“Berarti saya bisa mengejar bintang?”
“Perasaanku berkata, banyak bintang mengejar dirimu, tapi kau selalu menolaknya dengan ribuan alasan” Shana.
“Apa karena dirinya?” Shana.
“Lupakan! Sepertinya dia sudah lupa tentangku” berjalan pergi meninggalkan Shana.
“Dasar” teriakan Shana.
Tuhan, apa dia sudah melupakan diriku? Hal terbodohnya lagi adalah saya tidak memiliki nomor kontak dirinya sama sekali. Duduk termenung di halte di malam hari hanya untuk ini, sepertinya tidak masalah. Rutinitas tersebut tidak lagi kulakukan beberapa tahun belakangan.
“Apa kebiasaan buruk Ra masih seperti ini sampai sekarang?” seseorang menegurku.
“Dokter Aras” tidak menyangka setelah tujuh tahun tidak bertemu.
“Kapan datang?” pertanyaan buatnya.
“Kemarin bersama seseorang” dokter Aras.
“Dokter sudah punya pengganti Luan?”
“Pikiranmu kelewat aneh” dokter Aras menyentil keningku.
“Apa dokter berencana tinggal?”
“Sepertinya tidak” Dokter Aras.
“Kenapa?”
“Jagoan dan gadis kecilku menyukai taman bermain dekat rumah, lagian saya terikat kontrak kerja” dokter Aras.
“Lantas?”
“Ingin melihat Rae Avery lounching sebagai ilmuwan” dokter Aras.
“Dokter tahu dari mana?”
“Seseorang” dokter Aras.
“Apa dokter punya nomor kontak dirinya?”
“Siapa?” dokter Aras.
“Dia” berbicara sedikit takut.
“Dia siapa?” dokter Aras.
“Hazel” penekanan buatnya.
“Astaga, sampai detik sekarang kau tidak memiliki nomor lontak Hazel?” dokter Aras.
“Jangan meledekku!”
“Apa kau masih ingin mengejar bintang?” dokter Aras.
“Lupakan!” bahasa judes.
Pernyataan bodoh di gendang telingaku. Perasaan malu membuat dunia Rae Avery tidak berani berjalan ke arahnya. Apa dia sudah memiliki seseorang?
“Segelas susy cokelat hangat buatmu” suara tidak asing di gendang telingaku.
“Kau datang juga?” berbalik ke samping kanan halte.
Apa dia mendengar percakapan saya dan dokter Aras? Memalukan! Rasa-rasanya saya ingin segera bersembunyi di suatu tempat tidak terlihat olehnya. Mengejar bintang?
“Dia orang spesial yang kumaksud adi” dokter Aras.
“Kalian datamg bersamaan?” sedikit bingung.
“Kami malah tinggal serumah setahun kemudian setelah tinggal di LN” dokter Aras.
“Sahabat sekaligus ipar sepertinya tidak terpisahkan” dokter Aras.
“Penyataan kacau” kalimatku.
“Sepertinya, dua kurcaci kecilku menunggu di rumah” dokter Aras.
“Kau selalu menjadi ayah terbaik”...
“Saya harus pergi” dokter Aras berjalan pergi meninggalkan kami berdua.
“Tunggu, sepeda motor milikku 7 tahjm lalu Ra taruh dimana?” dokter Aras menghentikan langkahnya.
“Saya masih pakai, jadi, anggap saja sebagai hadiah buatku” ujarku.
“Dasar” dokter Aras berjalan pergi setelahnya tanpa berbalik lagi.
Mimpi apa saya semalam? Bertemu mereka berdua di halte? Kesunyian malam sepertinya tersenyum manis ke arahku. Mengejar bintang?
“Apa insomnia Ra masih tetap sama?” Hazel.
“Tidak, hanya kebetulan duduk saja” menjawab pertanyaannya.
“Tidak kusangka, Ra banyak berubah” senyum Hazel duduk di sampingku.
“Entahlah”...
“Menjadi dosen sekaligus ilmuwan, terdengar wow” Hazel.
“Tahu dari mana?”
“Media sosial” Hazel.
“Saya tidak posting apa pun” ujarku.
“Lupakan!” Hazel.
“Apa Ra memiliki waktu besok?” Hazel.
“Kenapa?”
“Saya ingin berkeliling kota saja bersama Ra memakai motor milik Aras” Hazel.
“Saya mengajar” kalimatku.
“Oh begitu” Hazel.
“Tapi, setelah jam makan siang saya punya banyak waktu” berkata-kata sedikit gugup.
“Kalau begitu besok saya jemput di kampus Ra mengajar” Hazel.
“Kau tahu alamatnya?”
“Tentu saja” Hazel.
“Sudah larut malam, ayo pulang! Saya antar” Hazel menarik tanganku.
Kami berdua tidak saling berbicara satu sama lain sepanjang jalan pulang. Mengejar bintang? Memang apa salahnya? Rae, jangan melewatkan kesempatan! Bagaimana kalau dia sudah memiliki pasangan?
“Meragukan” bergumam pelan.
Ribuan puzzle misterius berteriak cukup keras. Kenapa juga, saya berpikir kacau begini? Terus saja menatap cermin di kamar. Melempar seluruh pakaian keluar dari lemariku.
“Kurang menarik” membuang asal beberapa lembar baju.
“Sejenis tante girang kesurupan” sekali lagi melempar dres di tanganku.
“Kelewat nenek-nenek” bernada kesal.
Menyuruh temanku menkadi dosen pengganti hari ini tidak menjadi masalah. Berdandan berjam-jam depan cermin kamarku terkesan memalukan. Mengejar bintang?
“Dasar bodoh” merutuki diri sendiri karena tidak memiliki nomor kontak Hazel.
“Kenapa bisa macet begini?” bernada kesal.
Berusaha mengambil jalan lain menuju kampus. Hazel sedang menungguku, sementara saya sendiri tidak dapat menghubungi dirinya. Berusaha kembali merapikan diri setelah turun dari mobil.
“Saya yang terlambat atau dia yang terlalu cepat?” sedikit bingun melihat jam tangan.
Apa dia sadar kalau saya tidak aedang mengajar? Mati banyak. Berjalan ke arahnya dan berusaha memasang wajah seolah habis mengajar.
“Ayo berangkat!” Hazel segera menarik tanganku.
“Motoe milik Aras?” tersadar sesuatu.
“Pakai mobil saja” senyum Hazel.
Kami berdua berjalan di tengah keramaian. Makan, nonton di bioskop, ke mall, bermain di taman menjadi kegiatan kami hari ini. “Buatmu” memberiku sebuah kalung.
“Cantik” senyum Hazel.
“Apa saya bisa mengejar bintang?” ucapanku seketika.
“Mengejar bintang?” Hazel seolah tidak mengerti.
“Lupakan!” kalimatku samnil berjalan pergi mendahului dirinya di depan.
Saya tidak punya cukup keberanian terhadap dirinya. “Rumahmu dimana?” Hazel.
“Jangan berbohong masalah alamat rumah!” penekanan darinya.
“Kau terlihat menakutkan” ujarku.
Dia mengantarku pulang ke rumah. “Apa kau sudah memiliki pasangan?” memberanikan diri.
“Sepertinya” Hazel.
“Artinya?”
“Tidak ada” Hazel.
“Kau menyukai cewek seperti apa?”
“Kenapa?” Hazel.
“Sekedar bertanya saja” ujarku.
“Baik dan tidak makan sabun” tawa Hazel.
“Jawaban konyol” balasku.
Kenapa dia tetap terlihat tenang? “Turun, sudah sampai!” Hazel.
Berjalan pergi meninggalkan dirinya meripakan sesuatu yang adang kulakukan. “Ra, apa kau ingin hidup bersama selamanya denganku?” suara Hazel dari mobilnya menghentikan langkahku..
“Ra tidak harus mengejar bintang lagi kan?” Hazel.
“Hazel” berlari memeluk dirinya.
“Kau mengerti maksud ucapanku?”
“Tentang?” Hazel.
“Mengejar bintang” kalimatku.
“Cowok mana sih tidak naksir Ra, termasuk diriku” Hazel.
“Apa kita berdua akan menikah?” melemparkan pertanyaan sekali lagi.
“Tentu saja” terus mendekap kuat tubuhku. Terima kasih Tuhan memberiku hadiah terbaik sekali lagi. Sesuatu yang tidak pernah kupikirkan, pada akhirnya kuraih. Seorang Rae Avery memiliki versi hidupnya sendiri di sudut persimpangan.
TAMAT